Beda Generasi, Satu Tujuan: Mengubah Generation Gap Menjadi Generation Bridge

Oleh: Dr. Mirna Ari Mulyani, M.Pd.

Palembang. Berita Suara Rakyat. Com

Ada satu kenyataan yang tidak dapat kita hindari: manusia hidup dalam generasi yang berbeda.

Di rumah, orang tua berhadapan dengan anak-anak yang tumbuh dalam dunia digital. Di kampus, dosen bertemu mahasiswa yang memiliki cara belajar dan berkomunikasi berbeda. Di tempat kerja, generasi senior harus bekerja bersama generasi muda yang memiliki perspektif, kebiasaan, dan ekspektasi yang tidak selalu sama.

Perbedaan itu sering disebut generation gap atau kesenjangan generasi.

 

Namun, apakah perbedaan generasi harus selalu menjadi masalah?

Belum tentu.

Justru, jika dikelola dengan baik, perbedaan generasi dapat menjadi kekuatan.

Karena itu, dalam perspektif Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), saya melihat bahwa kita perlu mengubah cara pandang dari generation gap menjadi generation bridge—dari jurang yang memisahkan menjadi jembatan yang menghubungkan.

Beda Generasi, Satu Tujuan

Ada sebuah rumusan sederhana yang menurut saya penting untuk kita renungkan:

«“Beda Generasi, Satu Tujuan: Bertumbuh, Bersinergi, dan Berdampak.”»

Generasi boleh berbeda.

Cara berpikir boleh berbeda.

Pengalaman hidup boleh berbeda.

Bahkan cara menggunakan teknologi pun boleh berbeda.

Tetapi tujuan kita dapat tetap sama: menjadi manusia yang terus bertumbuh, mampu bekerja sama, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Generasi yang lebih tua memiliki pengalaman.

Generasi yang lebih muda memiliki energi dan inovasi.

Yang satu memiliki banyak cerita tentang masa lalu, sementara yang lain membawa harapan tentang masa depan.

Jika keduanya dipertentangkan, perbedaan akan menjadi konflik.

Tetapi jika keduanya dipertemukan, perbedaan dapat menjadi kekuatan.

Di sinilah pentingnya generation bridge.

Jembatan Itu Bernama Empati

Dalam perspektif psikologi dan Bimbingan Penyuluhan Islam, jembatan pertama yang harus dibangun adalah empati.

Empati berarti kemampuan memahami orang lain dari perspektifnya.

Orang tua perlu memahami bahwa anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan masa muda mereka.

Sebaliknya, generasi muda juga perlu memahami bahwa generasi sebelumnya memiliki pengalaman hidup yang membentuk cara mereka berpikir dan mengambil keputusan.

Jangan buru-buru mengatakan:

“Generasi tua tidak mengerti teknologi.”

Atau:

“Anak muda sekarang tidak tahan menghadapi kesulitan.”

Kalimat-kalimat seperti itu justru membangun tembok.

Empati mengajarkan kita untuk mengganti penilaian dengan pertanyaan:

“Mengapa ia berpikir seperti itu?”

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi dapat mengubah hubungan.

Dari Empati Menuju Dialog

Empati saja belum cukup.

Kita membutuhkan dialog.

Dialog bukan sekadar berbicara. Dialog adalah kemampuan mendengarkan dan memahami sebelum memberikan penilaian.

Dalam keluarga, dialog membuat orang tua dan anak dapat saling memahami.

Di kampus, dialog membuat dosen dan mahasiswa dapat belajar satu sama lain.

Di tempat kerja, dialog membuat generasi senior dan junior dapat menemukan cara bekerja yang lebih efektif.

Dalam BPI, dialog merupakan kompetensi penting karena proses bimbingan dan penyuluhan pada dasarnya membutuhkan kemampuan mendengar, memahami, memberikan respons, dan membangun hubungan yang sehat.

 

Karena itu, mahasiswa BPI perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menguasai teori, tetapi juga untuk menjadi manusia yang mampu mendengarkan manusia lain.

Dari Dialog Menuju Kolaborasi

Tahap berikutnya adalah kolaborasi.

Generasi senior memiliki pengalaman.

Generasi muda memiliki inovasi.

Mengapa harus dipertentangkan?

Bukankah lebih baik jika pengalaman dan inovasi dipertemukan?

Yang senior dapat menjadi mentor.

Yang muda dapat menjadi penggerak inovasi.

Yang senior dapat berbagi pengalaman menghadapi persoalan nyata.

Yang muda dapat membantu menghadirkan teknologi dan cara kerja baru.

Inilah yang saya sebut sebagai generation bridge.

Sebuah jembatan yang menghubungkan:

pengalaman masa lalu, kebutuhan masa kini, dan tantangan masa depan.

Relevan dengan Kesiapan Kerja Mahasiswa

Gagasan ini juga memiliki hubungan yang kuat dengan persoalan kesiapan kerja mahasiswa.

Dalam penelitian dan disertasi saya mengenai kesiapan kerja mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, kesiapan kerja tidak dapat dipahami hanya sebagai kemampuan memperoleh pekerjaan.

Mahasiswa yang siap kerja harus memiliki kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, memahami orang lain, serta mampu menghadapi perubahan lingkungan.

Dunia kerja hari ini adalah dunia multigenerasi.

Seorang lulusan perguruan tinggi sangat mungkin bekerja bersama pimpinan yang lebih senior, rekan kerja sebaya, maupun generasi yang lebih muda.

Karena itu, kemampuan bekerja lintas generasi sesungguhnya merupakan bagian dari kesiapan kerja.

Mahasiswa yang hanya mampu bekerja dengan orang yang sepemikiran akan mengalami kesulitan ketika masuk ke dunia kerja yang penuh keberagaman.

Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki kemampuan empati, dialog, dan kolaborasi akan lebih mudah beradaptasi.

BPI: Bukan Sekadar Membimbing, tetapi Menghubungkan

Di sinilah Bimbingan Penyuluhan Islam memiliki ruang kontribusi yang sangat besar.

BPI tidak hanya berbicara tentang bagaimana membantu seseorang menyelesaikan masalah.

BPI juga berbicara tentang bagaimana manusia membangun hubungan yang sehat, mengembangkan potensi, menyelesaikan konflik, beradaptasi dengan lingkungan, dan menemukan makna dalam kehidupan.

Dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks, lulusan BPI dapat berperan dalam berbagai ruang sosial: penyuluhan agama, pemberdayaan masyarakat, pendampingan keluarga, pelayanan sosial, lembaga pemasyarakatan, KUA, organisasi sosial, dakwah digital, hingga berbagai bidang pekerjaan yang membutuhkan kompetensi komunikasi dan interpersonal.

Karena itu, mahasiswa BPI harus memiliki satu kemampuan penting:

«Mampu menjadi jembatan di tengah perbedaan.»

Menjadi jembatan antara orang tua dan anak.

Antara generasi senior dan generasi muda.

Antara tradisi dan inovasi.

Antara nilai agama dan perkembangan teknologi.

Antara pengalaman dan masa depan.

Jangan Takut dengan Perbedaan

Kita sering takut terhadap perbedaan karena menganggap perbedaan sebagai ancaman.

Padahal, perbedaan dapat menjadi sumber pembelajaran.

Generasi muda membutuhkan pengalaman generasi sebelumnya.

Generasi sebelumnya juga membutuhkan energi, kreativitas, dan inovasi generasi muda.

Karena itu, persoalannya bukan siapa yang paling benar.

Persoalannya adalah bagaimana kita menemukan tujuan bersama.

Jika generasi senior berkata:

“Kami sudah mengalami banyak hal.”

Generasi muda dapat menjawab:

“Kami ingin belajar dari pengalaman itu.”

Dan ketika generasi muda berkata:

“Kami ingin melakukan sesuatu dengan cara baru.”

Generasi senior dapat menjawab:

“Mari kita lihat bagaimana pengalaman dan cara baru itu dapat berjalan bersama.”

Inilah dialog.

Inilah kolaborasi.

Inilah generation bridge.

Dari Generation Gap Menjadi Generation Bridge

Pada akhirnya, perbedaan generasi bukanlah sesuatu yang harus dihapus.

Perbedaan adalah kenyataan.

Yang perlu kita bangun adalah kemampuan untuk mengelolanya.

Karena itu, saya menawarkan tiga kata kunci sederhana:

«Empati → Dialog → Kolaborasi.»

Empati membuat kita memahami.

Dialog membuat kita terhubung.

Kolaborasi membuat kita menghasilkan sesuatu.

Jika ketiganya berjalan, generation gap tidak lagi menjadi jurang.

Ia berubah menjadi generation bridge.

Jembatan yang menghubungkan pengalaman masa lalu, kebutuhan masa kini, dan masa depan.

Dan dalam perspektif Bimbingan Penyuluhan Islam, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat manusia mampu hidup bersama.

Lebih dari itu, kita ingin melahirkan manusia yang mampu bertumbuh, bersinergi, dan berdampak.

Sebab pada akhirnya, kita mungkin berbeda generasi, tetapi kita memiliki satu tujuan:

«menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.»

Dr. Mirna Ari Mulyani, M.Pd.
Dosen/Praktisi Bimbingan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang

Pos terkait