Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
H Chairul S Matdiah, SH, MHKes, akan merilis buku keduanya berjudul “Di Balik Toga Hitam” pada awal Januari 2027 di Hotel Arista Palembang.
Buku yang ditulis oleh Ferly Marison ini membedah perjalanan panjang, realita hukum, serta lika-liku perjuangan seorang penegak hukum di Indonesia yang jarang tersingkap di ruang publik.
Buku ini merupakan kelanjutan dari biografi pertama Chairul, “Jejak Penjual Kopi”. Buku setebal 336 halaman itu diluncurkan pada Sabtu malam, 23 Agustus 2025, di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, bertepatan dengan usia ke-61 tahun Chairul S Matdiah.
“Insya Allah akan diluncurkan pada awal 2027 di Hotel Arista Palembang,” ujar Chairul kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).
Setelah buku pertama terbit, Chairul mengaku sering ditanya mengapa ia kembali menerbitkan buku.
“Banyak yang bertanya kepada saya, mengapa Pak Chairul kembali menerbitkan buku kedua. Jawabannya sederhana, satu buku tidak akan pernah cukup untuk menampung kompleksitas keadilan dan dinamika pengabdian,” kata Chairul.
Ia menjelaskan perbedaan kedua buku. Menurutnya, “Jejak Penjual Kopi” lebih banyak berbicara tentang perjalanan hidup dan fondasi karier. Buku kedua “Di Balik Toga Hitam” membagikan sisi yang lebih personal, yakni bagaimana nurani bekerja di bawah tekanan profesi, pahit getirnya memperjuangkan hak masyarakat, dan upayanya menjaga keseimbangan antara tegaknya hukum dan kepentingan politik.
“Saya ingin menunjukkan bahwa di balik wibawa toga yang saya kenakan, ada detak jantung seorang manusia biasa yang terus belajar untuk setia pada integritas,” tegasnya.
Chairul mengenakan toga hitam sejak 1995-2014 sebagai pengacara. Ia mengatakan, toga itulah yang membentuk tulang punggung moralnya saat melangkah ke gedung parlemen. Buku ini juga menjadi penghormatan bagi profesi advokat.
“Pengalaman menangani berbagai kasus besar, dari pidana berat sampai sengketa korporasi, mengajari saya bahwa hukum harus dibela dengan nyali,” katanya.
Dalam buku itu, Chairul juga membuka catatan yang menurutnya mungkin dianggap tidak lazim di dunia politik. Ia menceritakan sikapnya menutup pintu bagi uang “ketok palu” selama di Badan Anggaran DPRD Sumsel, yang ia sampaikan langsung kepada Gubernur Sumsel saat itu, Alex Noerdin.
“Bagi saya, kehormatan tidak bisa dibeli dengan rupiah hasil gratifikasi,” tegasnya.
Prinsip serupa ia terapkan pada hak rumah dinas. Saat anggaran renovasi dan tawaran fee kontraktor 15–20 persen datang, ia memilih bertahan dengan kondisi apa adanya selama lima tahun.
Chairul berharap buku ini menjadi bahan refleksi, terutama bagi generasi muda dan sesama politisi.
“Saya ingin buku ini menjadi saksi bahwa seorang politisi bisa tetap bersih di tengah lingkungan yang keruh. Integritas bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang bisa kita pilih setiap hari,” kata Chairul.
“Semoga karya ini dapat memberikan keberkahan, wawasan, serta insprasi nyata bagi siapa saja yang membacanya. Terima kasih atas dukungan semua pihak yang terus mendampingi proses penyusunan buku ini hingga siap diluncurkan pada awal tahun 2027,” tambahnya.
Isi Buku
Buku ini dibuka dengan Pendahuluan berjudul “Jalan Panjang Pengabdian Hukum Chairul S Matdiah”, lalu dibagi dalam enam bab.
Bab 1, “Jejak Langkah dan Nurani Sang Pembela”, mengisahkan Kelahiran di Desa Gajah Mati, Mimpi Masa Kecil, Memori “Jejak Penjual Kopi”, Akar Moral dari Rumah Sederhana, Pertemuan Pertama Dengan Ketidakadilan, dan filosofi Di Balik Toga Hitam.
Bab 2, “Dari Jalanan Menuju Ruang Sidang”, mengulas masa kuliah, sosok Prof Daud Busroh, Irisan Tiga Profesi (jurnalisme, pengusaha kayu, dan advokasi), Pengalaman di Majalah Fakta, serta peran istri, Anisah Mardin, di balik gelar “SH”.
Bab 3, “Sumpah di Bawah Langit Keadilan”, memuat langkah awal sebagai penegak hukum, tulisan Chairul yang meruntuhkan rekayasa kasus bunuh diri seorang polisi, serta sumpah pengacara dan pelantikan advokat. Bab ini juga bercerita tentang Seni Menjadi Pengacara Parlente, Toga Hitam dan Tinta Jurnalis, serta Ritme Karier Bersama Suzuki Katana Merah.
Bab 4, “Catatan Perjalanan Advokat dan Labirin Keadilan”, menjadi bagian terpanjang. Isinya kumpulan perkara yang ditangani Chairul, di antaranya Menggugat Seorang Kolonel, Rekor Kemenangan 93 Persen, Pembelaan terhadap Marzuki Alie, Kasus Tanjung Api-api, Tragedi Armada PON 2004, Prahara Tiket Baitullah, Perjuangan 167 Warga Pedamaran, Skandal SP2D Bodong, dan Skandal Dana Pensiunan Pusri. Bab ini ditutup dengan kisah Melepas Toga Hitam di Puncak Kejayaan.
Bab 5, “Pengabdian Tanpa Batas”, mengikuti perjalanan Chairul ke dunia politik, Terpilih pada Pencalonan Perdana, Mengemban Amanah Tertinggi di Gedung Rakyat, Menolak Uang Haram dan Fasilitas Mewah Pimpinan DPRD Sumsel, hingga kenangan bersama almarhum H Alex Noerdin dan sosok Ishak Mekki.
Bab 6, “Catatan dari Luar Sidang”, memotret Sisi Lembut Chairul di Mata Keluarga, Pelajaran dari Setiap Perkara, Harapan Bagi Penegakan Hukum, Kisah Sedekah, Pajero Putih: Gerobak Sedekah Jalanan, hingga Kuat Karena Doa: Melodi di Balik Ujian.
Buku setebal 400 halaman lebih ini ditutup dengan lampiran foto dan profil penulis, dilengkapi sambutan Gubernur Sumsel Herman Deru, Gubernur Sumsel Periode 2003–2008 Syahrial Oesman, Anggota DPR RI Ishak Mekki, Irwan Effendi, dan Bambang Hariyanto.
(Yanti)



















