Disdik Sumsel Perkuat Layanan Pendidikan Khusus, Guru Didorong Miliki Keterampilan Khusus

Palembang. Berita Suara Rakyat. Com

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan pendidikan reguler. Oleh sebab itu, Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel memperbanyak pelatihan bagi guru reguler agar memiliki kemampuan mengajar untuk siswa berkebutuhan khusus.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Utui Tatang Sutani, S.T., M.M., saat ditemui wartawan di ruang kerjanya pada 3 Maret 2026.

 

Menurut Tatang, bidang yang saat ini dipimpinnya terus berupaya memperkuat layanan pendidikan bagi siswa dengan berbagai jenis ketunaan melalui sekolah luar biasa (SLB).

 

Ia menjelaskan bahwa siswa yang menempuh pendidikan di SLB umumnya memiliki kebutuhan khusus yang beragam, di antaranya tunagrahita, tunadaksa, tuna rungu, hingga kondisi lain yang memerlukan metode pembelajaran khusus.

 

“Sekolah luar biasa ini jumlahnya memang tidak sebanyak sekolah reguler. Idealnya siswa yang memiliki kebutuhan khusus disekolahkan di SLB agar mendapatkan pendampingan yang sesuai,” ujar Tatang.

 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sekolah reguler tidak diperkenankan menolak siswa berkebutuhan khusus yang ingin bersekolah di sana. Hal tersebut merupakan bagian dari prinsip pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan.

 

Namun, Tatang mengakui bahwa dalam praktiknya siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah reguler sering kali tidak mendapatkan perhatian khusus sesuai dengan kebutuhannya.

 

Padahal, lanjut dia, anak dengan kebutuhan khusus seharusnya dibimbing menggunakan kurikulum dan metode pembelajaran yang berbeda dari siswa pada umumnya.

 

“Idealnya satu siswa berkebutuhan khusus didampingi oleh satu guru. Hanya saja sumber daya manusia pengajar kita belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan, anak dengan spektrum autisme membutuhkan pendampingan yang lebih intensif dalam proses belajar. Jika mereka belajar di sekolah reguler tanpa pendamping khusus, maka perhatian yang diterima tidak akan maksimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mulai memperbanyak pelatihan bagi guru reguler agar memiliki keterampilan khusus dalam menangani siswa berkebutuhan khusus.

 

“Misalnya guru yang akan mengajar siswa tuna rungu harus belajar dan memiliki keterampilan bahasa isyarat. Karena itu kami mulai memperbanyak pelatihan bagi guru reguler agar memiliki kemampuan tersebut,” kata Tatang.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini jumlah sekolah luar biasa di Sumatera Selatan mencapai sekitar 40 sekolah, baik negeri maupun swasta. Khusus di Kota Palembang sendiri terdapat sekitar 24 SLB, sementara sisanya tersebar di berbagai kabupaten dan kota lainnya.

 

Tatang turut memberikan apresiasi kepada para guru yang mengabdikan diri di sekolah luar biasa. Menurutnya, dedikasi mereka dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus sangat besar dan membutuhkan kesabaran serta keikhlasan yang tinggi.

 

“Guru pada dasarnya adalah pekerjaan yang penuh pengabdian. Namun guru di SLB ini lebih dari itu, mereka benar-benar beramal karena setiap hari mendampingi anak-anak dengan kebutuhan khusus,” tuturnya.

 

Ia berharap ke depan perhatian terhadap pendidikan khusus semakin meningkat, baik dari pemerintah maupun masyarakat, sehingga setiap anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh layanan pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

(Yanti)

Pos terkait