Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Suasana penuh kehangatan mewarnai pembinaan Penyuluh Agama Islam se-Sumatera Selatan oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kemenag RI, Mukhlis Muhammad Hanafi di Aula Kanwil Kemenag Sumsel, Rabu (4/3/2026). Acara yang digelar secara hybrid ini menekankan dua poin utama, yaitu penguatan kerukunan umat dan transformasi kesejahteraan serta karir penyuluh.
Kakanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan dalam sambutannya berpesan agar para penyuluh agama senantiasa menyebarkan kebaikan mulai dari diri sendiri. Syafitri menekankan agar nilai-nilai Al-Qur’an disampaikan sebagai solusi yang menyejukkan.
“Jadilah penenang hati bagi masyarakat, bukan justru memprovokasi sehingga terpecah belah. Sumatera Selatan dikenal sebagai daerah Zero Conflict, ini harus kita pertahankan. Jika ada gesekan, kita selalu selesaikan dengan sebaik-baiknya,” ujar Syafitri.
Era Baru Penyuluh: Peluang Menjadi Kepala KUA
Dalam sesi pembinaan, Direktur Penais Mukhlis Hanafi membawa kabar segar mengenai pengembangan karir. Mukhlis menegaskan bahwa saat ini jabatan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) tidak lagi terbatas bagi penghulu, melainkan terbuka lebar bagi Penyuluh Agama Islam.
Beberapa poin penting transformasi kebijakan yang disampaikan meliputi akselerasi karir di mana formasi penyuluh dibuka hingga jenjang Ahli Utama, Uji Kompetensi (Ukom) sebagai implementasi petunjuk pelaksanaan baru untuk pembinaan karir yang lebih transparan, serta kepemimpinan KUA di mana penyuluh kini memiliki kesempatan dipromosikan menjadi Kepala KUA, sebagaimana yang sudah mulai diimplementasikan di wilayah Jawa Barat.
Lebih jauh, Direktur Penais memberikan apresiasi mendalam terhadap dedikasi para penyuluh di lapangan. Mukhlis menyebut bahwa menjadi penyuluh adalah panggilan jiwa yang melampaui sekadar profesi formal. Banyak penyuluh yang merupakan tokoh masyarakat yang sudah mapan, namun tetap memilih berkhidmat untuk umat. Ia juga mengingatkan bahwa keberkahan hidup seorang penyuluh seringkali datang dari jalan yang tidak terduga.
“Mungkin secara materi terlihat cukup atau pas-pasan, tapi ‘pas’ itu artinya: pas butuh, Allah mudahkan. Pas ingin beribadah ke tanah suci, ada jalan melalui bimbingan jemaah. Rasa cinta dan doa dari masyarakat yang kita bina jauh lebih besar nilainya dari tunjangan mana pun,” ungkapnya.
Pembinaan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para penyuluh di Sumatera Selatan untuk terus bergerak sebagai sosok pencerah. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah yang semakin baik dan ketulusan niat para penyuluh, diharapkan kualitas layanan keagamaan di Sumatera Selatan semakin meningkat dan tetap terjaga dalam kedamaian.
Acara pembinaan yang berlangsung interaktif ini dihadiri Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al Qur’an dan Hadist Kemenag RI Rijal Ahmad Rangkuti, Ketua LPTQ Sumsel Ahmad Iskandar Zulkarnaen, Kabag Tata Usaha Taufiq, Kepala Bidang Penaiszawa Evi Zurfiana Azom, serta diikuti oleh Penyuluh Agama Islam fungsional maupun honorer se-Sumatera Selatan, baik yang hadir secara luring maupun daring melalui platform zoom meeting.
(Yanti/ril)















