Kenangan Mendalam Chairul S Matdiah untuk Alex Noerdin: Dari Sahabat, Mentor hingga Pelukan Terakhir

Palembang. Berita Suara Rakyat. Com

 

Politik boleh dinamis, pilihan boleh berbeda, namun bagi Chairul S Matdiah, sosok almarhum Alex Noerdin lebih dari sekadar pemimpin. Ia adalah mentor, sahabat, dan sosok abang yang meninggalkan jejak mendalam di sanubari.

 

Jika bagi orang luar Alex adalah sosok gubernur yang visioner dan tegas, bagi Chairul, Alex adalah sosok yang memiliki sisi lembut dan perhatian yang jarang terpapar kamera.

 

​Hubungan erat ini bermula di tahun 1999. Setahun kemudian, saat Alex Noerdin menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin (Muba), Chairul dipercaya menjadi pengacara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba selama tiga tahun. Meski sempat terputus kontrak pada 2003 dan berlanjut di 2004, ikatan emosional di antara keduanya justru menguat saat badai kesehatan menerjang sang Pelopor Sekolah Gratis tersebut.

 

Persahabatan mereka tidak tumbuh di meja makan mewah saat jaya, melainkan di lorong-lorong sunyi rumah sakit. Momen kritis itu terjadi pada tahun 2005. Saat itu, Chairul harus dilarikan ke Mount Elizabeth Hospital Singapura akibat infeksi ginjal. Alex hadir membesuk, menyaksikan perjuangan keras sang sahabat di ranjang rumah sakit. Begitu pula saat Chairul menjalani operasi cangkok ginjal pada 2007, Alex tetap setia mendampingi di masa-masa sulit itu.

 

Alex hadir sebagai sahabat yang membawa doa. Di titik terendah manusia, saat raga melemah, sekat antara “Bupati” dan “Pengacara” runtuh, menyisakan dua manusia yang saling menguatkan.

 

​”Hubungan kami sangat bagus. Bahkan saat beliau menjadi Gubernur dan saya duduk di Pimpinan DPRD Sumsel, koordinasi tidak pernah putus. Beliau selalu meminta konsultasi hukum jika ada aturan yang krusial, seperti persoalan peraturan daerah,” kenang Chairul.

 

​“Ingatkan Aku, Rul…”

​Ada satu pesan yang selalu terngiang di telinga Chairul. Sebagai Gubernur, Alex Noerdin kerap berpesan dengan nada rendah hati namun tegas.

“Hati-hati di DPRD. Ingatkan aku kalau ada masalah hukum,” ujar Chairul mengulang pesan yang disampaikan Alex Noerdin.

 

​Sebaliknya, Chairul dengan bangga menjaga integritas di hadapan Alex. Ia melaporkan bahwa dirinya tidak pernah menyentuh uang “ketok palu” atau terlibat dalam permainan anggaran (Banggar).

 

“Beliau bangga sekali saat saya lapor tidak ambil duit itu. Itulah bentuk saling hormat di antara kami,” tambahnya.

 

​Tanda Mata Dasi Hermes

​Kedekatan mereka juga diwarnai cerita unik yang personal. Alex Noerdin dikenal sebagai sosok yang sangat memerhatikan penampilan. Suatu kali, sepulang dari kunjungan luar negeri, Alex membelikan Chairul dasi merk Hermes.

​”Waktu itu dia tanya, ‘Rul, mau tidak dasi?’. Ternyata dia belikan tiga buah. Karena pak Alex tahu saya pengacara parlente, sering pakai jas dan dasi, pemberian itu sangat berkesan,” kenang Chairul sambil tersenyum.

 

“Awalnya saya kira dasi biasa, rupanya pak Alex membelikan saya dasi Hermes (Aksesoris fashion mewah dikenal dengan desain elegan dan kualitas tinggi),” katanya.

Pemberian tiga buah dasi Hermes bukan sekadar urusan merk mewah. Itu adalah cara Alex berkata, “Aku menghargaimu sebagai adikku.”

Ada kehangatan saat Alex menawarkan dasi tersebut, sebuah gestur kecil yang menunjukkan bahwa di tengah padatnya agenda luar negeri, ia masih menyempatkan waktu memikirkan sahabatnya di Tanah Air. Bagi Chairul, dasi itu bukan sekadar aksesoris pakaian, melainkan simbol martabat dan kasih sayang seorang kakak.

​Ujian Politik di Pilgub 2008

​Persahabatan mereka sempat diuji secara profesional pada Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan (Pilgub Sumsel) 2008. Saat itu, Chairul berada di kubu Syahrial Oesman. Dampaknya luar biasa, 35 perusahaan klien hukum Chairul mengundurkan diri karena pilihannya berseberangan dengan Alex Noerdin yang kemudian memenangkan kursi Gubernur Sumsel.

“Waktu aku mendukung pak Syahrial, seluruh klien mengundurkan diri, padahal pak Alex orang yang baik, tidak melarang perusahaan memakai jasa saya sebagai pengacara, tapi perusahaan menganggap saya orang Syahrial,” ujar Chairul.

“35 perusaahaan meninggalkan saya ketika pak Alex terpilih menjadi Gubernur Sumsel, karena orang melihat saya orang Syahrial,” sambungnya.

 

​Meski secara politik berseberangan, Alex Noerdin secara pribadi tidak pernah membenci Chairul. Baginya, perbedaan pilihan adalah hal lumrah dalam demokrasi, namun persaudaraan adalah abadi.

 

​Pelukan di Ujung Jalan

​Kebaikan keluarga Alex Noerdin juga dirasakan Chairul hingga ke anak-istri almarhum. Sosok Dodi Reza, Lury Elza, hingga sang istri, Eliza Alex, sangat familiar dengan nama Chairul S Matdiah.

 

“Tidak hanya pak Alex, kedua anaknya, Dodi Reza Alex dan Lury Elza Alex, juga baik. Istri pak Alex Ibu Eliza Alex juga orang yang sangat baik,” kata Chairul.

​Saat kabar duka itu datang, Chairul langsung terbang ke Jakarta. Di depan jenazah sang sahabat, air mata tak terbendung.

Puncak dari narasi kemanusiaan ini adalah saat Chairul memeluk dan mencium jenazah Alex Noerdin. Di momen itu, semua perbedaan politik tahun 2008, saat 35 klien meninggalkannya karena membela Syahrial Oesman, seolah menguap tak berbekas.

“Kucium dan kupeluk jenazahnya. Saya ingat semua kebaikannya. Apa yang mungkin dilaporkan orang buruk tentang beliau, bagi saya dia orang yang sangat baik. Bahkan, beliau hadir saat kedua adik saya Darmiat Darmowidakdo dan Aguspianto meninggal dunia,” ungkap Chairul dengan suara bergetar.

 

“Dunia boleh menilai beliau dengan berbagai sudut pandang, tapi bagi saya, pelukan terakhir itu adalah salam perpisahan untuk hati yang sangat baik. Beliau bukan hanya pemimpin bagi Sumsel, tapi penjaga bagi mereka yang dianggapnya keluarga,” tutur Chairul dengan mata berkaca-kaca.

​Kini, sang “Gubernur Pelopor” telah tiada, namun bagi Chairul S Matdiah, memori tentang diskusi hukum, nasihat di DPRD, hingga tiga buah dasi Hermes itu akan tetap tersimpan rapi sebagai bukti sebuah persahabatan sejati.

​Selamat Jalan, Pak Alex Noerdin. *

Pos terkait