Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Di atas meja kayu yang mulai kusam, uap tipis mengepul dari secangkir kopi hitam. Takarannya tetap: pahit yang dominan dengan sesisip gula yang samar—sebuah metafora kecil tentang hidup di negeri ini. Pahitnya nyata, manisnya hanya sekadar janji kampanye atau pemanis kebijakan yang seringkali hambar saat sampai di lidah rakyat jelata.
Lebaran tahun ini, 1447 Hijriah, datang dengan ritus yang sama. Di sela-sela kunyahan ketupat dan aroma opor yang gurih, muncul pertanyaan-pertanyaan “template” yang menghunjam jantung privasi: “Kapan nikah?”, “Sudah kerja di mana?”, atau “Kapan menyusul punya rumah?” Bagi banyak orang, ini adalah momen penghakiman personal. Seolah-olah, keterlambatan dalam menapaki tangga sosial adalah murni dosa individu, akibat kurang kerja keras atau kurang lincah menjemput takdir.
Namun, mari kita letakkan cangkir kopi sejenak dan melihat lebih jernih. Di balik pertanyaan-pertanyaan klise itu, ada realitas sosiopolitik yang jauh lebih kelam. Kita tidak sedang malas; kita sedang dikurung dalam sebuah sangkar besar bernama Serakahnomics. Sebuah tatanan ekonomi yang dibangun bukan untuk kemakmuran bersama, melainkan untuk melayani syahwat akumulasi kapital segelintir elit yang tak pernah merasa cukup.
*Mesin Pemiskin Struktural*
Dalam tradisi kritis, kita harus berani menunjuk hidung pelakunya. Stagnasi hidup generasi hari ini bukanlah fenomena alam, melainkan desain kebijakan. Mengapa sulit mencari kerja? Jawabannya bukan semata karena “kurang skill”, melainkan akibat deindustrialisasi dan kebijakan pasar kerja fleksibel yang memuja efisiensi di atas martabat manusia.
Teori ketergantungan yang digagas oleh Andre Gunder Frank dalam The Development of Underdevelopment mengingatkan kita bahwa kemiskinan seringkali adalah produk sampingan dari kemajuan semu. Di Indonesia, kita melihat bagaimana sumber daya alam “paru-paru kehidupan rakyat” dikapling-kapling menjadi konsesi besar. Ketika tanah dirampas atas nama investasi, maka kedaulatan agraria runtuh. Petani kehilangan lahan, pemuda desa kehilangan harapan, dan kota-kota besar dipenuhi oleh tentara cadangan tenaga kerja yang bersaing memperebutkan upah murah.
Inilah wujud nyata dari kemiskinan struktural. Sebuah kondisi di mana seseorang tidak berdaya bukan karena cacat karakter, melainkan karena akses terhadap alat produksi dan distribusi kekayaan telah diblokade oleh tembok raksasa bernama oligarki.
*Pernikahan: Antara Sakralitas dan Spekulasi*
Lalu, bagaimana dengan pertanyaan “Kapan nikah?” yang selalu menghantui? Dalam sistem Serakahnomics, pernikahan bukan lagi sekadar urusan cinta atau ibadah, melainkan kalkulasi finansial yang mencekik. Harga tanah dan properti tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan manusia, melainkan oleh nafsu spekulan.
Negara, yang seharusnya menjadi wasit bagi keadilan hunian, seringkali justru menjadi fasilitator bagi para pengembang raksasa. Akibatnya, rumah tangga menjadi barang mewah yang tak terjangkau oleh kelas pekerja. Anak muda dipaksa memilih: menunda pernikahan atau hidup dalam jeratan utang seumur hidup demi sepetak tanah yang harganya melampaui logika upah tahunan.
Kesalahan ini bukan pada niat sang pemuda, tapi pada sistem yang membiarkan tanah menjadi komoditas judi bagi kaum kapitalis. Padahal, peringatan langit sudah sangat terang. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 7, Tuhan memerintahkan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Sebuah perintah untuk distribusi keadilan yang hari ini justru dilanggar secara berjamaah oleh sistem ekonomi kita.
*Menuju Fajar yang Adil*
Maka, Lebaran kali ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi kolektif sebuah “Ijtihad Sosial”. Kita butuh sistem baru yang lebih adil. Sistem yang menempatkan manusia sebagai pusat, bukan profit. Kita butuh Reforma Agraria yang sejati, di mana tanah kembali ke tangan mereka yang mengolahnya, dan kebijakan ekonomi yang memprioritaskan kedaulatan rakyat di atas kepentingan korporasi transnasional.
Hidup yang adil, makmur, dan bahagia hanya bisa dicapai jika kita berani memutus rantai Serakahnomics. Kebahagiaan tidak boleh menjadi hak eksklusif mereka yang berada di puncak piramida kekuasaan. Ia harus menjadi milik abang ojek, petani gurem, buruh pabrik, dan para sarjana yang masih mencari jalan di tengah belantara ketidakpastian.
Selesaikan kopimu. Biarkan ampasnya mengendap sebagai pengingat bahwa realitas memang pahit, namun kesadaran adalah awal dari perlawanan. Jangan biarkan pertanyaan-pertanyaan Lebaran itu meruntuhkan harga dirimu. Katakan pada mereka: “Saya sedang berjuang di tengah sistem yang zalim, dan perjuangan ini adalah bagian dari ibadah saya untuk mencari keadilan.”
Di ujung Syawal yang fitri, saat gema takbir masih menyisakan getar di sanubari, izinkan jemari yang berlumur debu perjuangan ini bersimpuh dalam kata. Di antara harum cengkih dan uap pekat kopi hitam, ada rindu yang ingin ditunaikan, ada khilaf yang mohon dimaafkan.
*Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.*
Biarkan jiwa kita kembali suci, seputih kapas yang tak terjamah noda keserakahan. Semoga kemenangan ini bukan sekadar tentang baju baru, melainkan tentang lahirnya keberanian baru untuk berdiri tegak di atas kebenaran.
Salam takzim dari tepian cangkir,
*Ki Edi Susilo*
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula















