Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Melanjutkan pemantauan aktif vaksinasi dengue yang sebelumnya telah diresmikan di Jakarta (29/09), hari ini, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, bersama Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya meresmikan program yang sama di Kota Palembang.
Dr. H. Herman Deru, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, menyambut baik inisiatif vaksinasi dan pemantauan aktif sebagai bagian dari upaya pengendalian dengue di Sumatera Selatan, yang merupakan bagian dari visi jangka panjang pembangunan kesehatan di daerah. “Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus kita hadapi secara berkelanjutan dan terencana. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memiliki komitmen kuat untuk memperkuat upaya pencegahan dengue, sejalan dengan target nasional dan global menuju nol kematian akibat dengue pada 2030.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan langkah yang lebih proaktif, berbasis data, dan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Upaya pengendalian vektor dan edukasi masyarakat tetap menjadi fondasi penting, namun perlu dilengkapi dengan inovasi kesehatan dan pendekatan pencegahan yang didukung bukti ilmiah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi akademik, dan mitra kesehatan dalam pemantauan aktif vaksinasi dengue di Palembang ini mencerminkan komitmen bersama untuk melindungi generasi muda dan memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat Sumatera Selatan ke depan, serta mencapai ‘nol kematian akibat dengue di Palembang pada tahun 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, dr. H. Trisnawarman, M.Kes., Sp.KKLP., Supsp.FOMC, mengingatkan masyarakat bahwa dengue bukanlah penyakit musiman. “Sepanjang tahun, masyarakat Palembang menghadapi ancaman dengue. Berdasarkan data Dengue Kabkota di Sumsel pada tahun 2025 per 31 Desember dilaporkan sebanyak 4.437 kasus dengan 22 kematian. Dengan kasus tertinggi dengue pada tahun 2025 yaitu Palembang sebanyak 968 kasus dan 3 kematian. Dari rekapitulasi laporan, dalam 5 tahun terakhir kasus dengue ditemukan paling banyak pada kelompok umur 15-44 tahun (42% dari total kasus) dan dalam 7 tahun terakhir kematian dengue ditemukan paling banyak pada kelompok umur 5-14 tahun (41% dari total kasus). Berdasarkan data tersebut, anak usia sekolah menjadi kelompok rentan terkena dengue.
Sebagai pemerintah provinsi, kami terus mendorong penguatan upaya pencegahan dengue secara berkelanjutan di seluruh kabupaten kota, melalui penerapan 3M Plus, edukasi masyarakat tentang kebersihan lingkungan, penguatan peran jumantik, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi seperti Ovitrap. Namun, kami menyadari bahwa tantangan dengue yang semakin kompleks memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
Oleh karena itu, kolaborasi Dinas Kesehatan Kota Palembang dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dalam pelaksanaan vaksinasi dengue serta pemantauan aktif pada anak-anak usia 6-10 tahun di Palembang menjadi langkah penting untuk memperkuat perlindungan, khususnya bagi kelompok usia yang rentan. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi pembelajaran dan model bagi penguatan upaya pengendalian dengue di wilayah lain di Sumatera Selatan, melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.”
Ketua Pelaksana Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Sumatera Selatan, dr. Ariesti Karmila, Sp.A (K)., M.Kes., menegaskan, “Dengue merupakan penyakit endemis di Indonesia yang sering kali dianggap ringan, padahal pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi berat dan berisiko menyebabkan kematian. Persepsi ini masih cukup umum di masyarakat kita, sehingga upaya pencegahan menjadi sangat penting. Pencegahan dengue perlu dilakukan secara konsisten melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) terutama dengan menerapkan 3M Plus secara konsisten.
Berbagai pendekatan yang telah berjalan, seperti Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik tetap menjadi bagian penting dari upaya pengendalian dengue. Metode inovatif, termasuk vaksinasi, hadir sebagai pelengkap untuk memperkuat upaya-upaya tersebut sehingga pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan rantai penularan dengue dapat ditekan secara berkelanjutan. Pemantauan aktif di Palembang menyasar 7.500 anak, di 60 Sekolah Dasar di wilayah kerja 10 Puskesmas dengan laporan kejadian tertinggi di Palembang, dengan 5.000 di antaranya mendapatkan vaksinasi. Kota Palembang sendiri dipilih dengan pertimbangan sebagai wilayah dengan angka kejadian dengue tertinggi di Sumatera Selatan. Vaksin yang digunakan dalam pemantauan aktif ini telah dipasarkan di Indonesia selama lebih dari 3 tahun dan telah direkomendasikan oleh asosiasi medis untuk digunakan bagi anak dan dewasa.
Palembang dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan pemantauan aktif tidak hanya karena tingginya kasus di kota ini, tetapi juga melihat kesiapannya, dan berdasarkan diskusi dengan para ahli, Kementerian Kesehatan, dan Dinas Kesehatan setempat.”
Prof. Dr. dr. Mgs. Irsan Saleh, M.Biomed, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, menyampaikan, “Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya secara konsisten mendukung dan menjalankan setiap upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Palembang secara khusus dan masyarakat Sumatera Selatan secara umum. Kami melakukan upaya ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni tiga pilar utama yang menjadi pedoman kami sebagai akademisi. Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue akan memperkuat pendidikan berbasis riset, menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan, dan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat yang terdampak dengue. Oleh karena itu, kami merasa terhormat dipercaya sebagai lead dari insiatif Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Palembang. Peran strategis ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk mendukung upaya pencegahan dengue berbasis data di tingkat daerah. Kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, serta Takeda menjadi elemen penting dalam memastikan inisiatif ini berjalan secara terkoordinasi, berbasis ilmiah, dan memberikan manfaat nyata bagi penguatan pencegahan dengue di wilayah Sumatera Selatan.”
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), Penanggung Jawab Kegiatan Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Nasional, menyatakan, “Pemantauan aktif ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan terhadap dengue melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis pemantauan kesehatan jangka panjang. Kegiatan vaksinasi beserta pemantauannya yang diresmikan hari ini merupakan bagian dari Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue multinegara yang juga dilaksanakan di Thailand dan Malaysia. Di Indonesia, program pemantauan aktif ini berlangsung di tiga kota, yaitu Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin, dalam periode tiga tahun.
Di Palembang, pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan puskesmas setempat, dengan melibatkan anak-anak yang divaksinasi maupun yang tidak divaksinasi, sesuai dengan kesediaan orang tua untuk berpartisipasi. Melalui pemantauan yang terstruktur, kami berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kesehatan anak-anak di wilayah dengan beban dengue yang tinggi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan dengue ke depan secara berkelanjutan.”
Prof. Sri menambahkan bahwa di luar pemantauan aktif ini, vaksinasi dengue juga telah diberikan pada anak Sekolah Dasar di beberapa kota seperti Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Probolinggo dan Minahasa Utara, atas inisiatif Pemda setempat. Ia menegaskan bahwa vaksinasi merupakan salah satu inovasi di bidang kesehatan yang aman dan efektif dalam mencegah penyakit infeksi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. “Orang tua menerima dengan baik dan vaksinasi yang diberikan pada anak-anak aman. Oleh karena itu hasil dari pemantauan aktif ini sangat dinantikan sebagai dasar pemberian vaksinasi dengue dalam program nasional untuk menyongsong “Zero dengue death” di tahun 2030, atau paling tidak kita dapat menurunkan 50% kematian dan 25% angka kejadian dengue,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Arif Abdillah, Head of Medical Affairs, PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan, “Sebagai mitra jangka panjang Indonesia, Takeda berkomitmen untuk mendukung upaya berkelanjutan dalam melindungi masyarakat dari dengue. Tantangan dengue tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor yang konsisten, berbasis sains, dan berorientasi pada dampak jangka panjang. Melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan Kota Palembang, dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dalam program pemantauan aktif ini, kami mendukung upaya penguatan perlindungan kesehatan anak-anak, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dan melindungi lebih banyak keluarga dari risiko penyakit seperti dengue. Inisiatif ini juga turut memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pencegahan dengue ke depan dan sejalan dengan misi Takeda untuk berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.”
Sementara itu, Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel Ira.P. Ogatiyah mengatakan, di bulan Februari dan Maret menjaga prilaku hidup bersih dan sehat harus ditingkatkan dan menjaga lingkungan juga harus ditingkatkan.
“Pencegahan penyakit Dengue, kita laksanakan 3M plus, pemberantasan sarang nyamuk,” katanya.
“Hari ini kick off vaksin dangue, salah satu vaksin DBD yang efektif menekan kasus kematian DBD.Target vaksin untuk anak anak SD umur 6 tahun , dua dosis , suntik pertama kemudian 3 bulan suntik kedua, dan dipantau selama 3 tahun,” bebernya.
Dia menuturkan, kasus DBD tahun lalu di Sumsel sekitar 9.000 kasus.”Di Sumsel kasus DBD banyak menyerang anak anak. Harapannya setelah divaksin, penderita DBD menurun, kematian juga menurun. Anak anak di Sumsel , di Palembang terlebih dahulu yang diberikan vaksin. Diharapkan 16 kabupaten kota lainnya juga diberikan vaksin,” pungkasnya.
(Anton)















