Opini: Daeng Supri Yanto, SH ,MH, CMS.P
Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Gelombang demonstrasi dan penjarahan yang mencengkeram Jakarta pada 29-31 Agustus 2025, bukanlah sekadar riak kecil dalam samudra demokrasi, melainkan tsunami kekecewaan yang menghantam fondasi negara. Kenaikan tunjangan anggota DPR-RI, di tengah himpitan ekonomi yang mendera rakyat, adalah bara yang menyulut api amarah. Ironi ini bagaikan melodi sumbang di tengah orkestra pembangunan, mengusik rasa keadilan dan mengoyak kepercayaan publik.
Tragedi yang lebih memilukan adalah ketika oknum Brimob merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online. Tindakan brutal ini bukan hanya menghilangkan satu nyawa, tetapi juga melukai rasa kemanusiaan dan meruntuhkan kepercayaan terhadap institusi Polri. Kemarahan massa yang membara, meluap ke jalanan, menyasar kantor dan markas polisi, adalah ekspresi dari akumulasi kekecewaan yang telah lama terpendam.
Aksi penjarahan yang menyertai demonstrasi adalah cermin buram dari ketimpangan sosial yang menganga lebar. Tindakan ini adalah jeritan putus asa dari mereka yang merasa terpinggirkan, yang hak-haknya terabaikan, dan yang suaranya tak pernah didengar. Namun, anarki bukanlah jawaban. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan yang lebih besar, dan penjarahan hanya akan merugikan kita semua.
Di tengah badai krisis ini, kita harus mampu menjaga nalar dan nurani. Kita harus mampu membedakan antara kritik konstruktif dan provokasi destruktif. Kita harus mampu merajut kembali persatuan yang terkoyak, dengan benang-benang empati, toleransi, dan keadilan.
Kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri. Mari kita kawal jalannya pemerintahan dengan kritis dan konstruktif. Mari kita tegakkan hukum dengan adil dan tanpa pandang bulu. Mari kita bangun Indonesia yang lebih baik, yang adil, makmur, dan bermartabat.
Kepada Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, kami menaruh harapan besar di pundakmu. Sebagai pemimpin bangsa, engkau memiliki tanggung jawab untuk meredakan amarah, memulihkan kepercayaan, dan membawa Indonesia keluar dari krisis ini. Tunjukkanlah kepemimpinan yang bijaksana, tegas, dan berpihak kepada rakyat. Jadilah nahkoda yang mampu membawa kapal besar Indonesia berlayar menuju samudera kemajuan dan kesejahteraan.(Yanti)