Palembang. Berita Suara Rakyat.Com
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sumsel Ir H Pandji Tjahjanto, S.Hut., M.Si menghadiri, memotong tumpeng dan potong pita pada acara Festival Marogan dalam rangka Milad Pesantren Tahfidz Kiai Marogan Ke 16 Tahun 2026.
Adapun tema kegiatan yakni “Menghidupkan Kembali Warisan Marogan Untuk Generasi Masa Depan” dan kegiatan ini sendiri dipusatkan di Pondok Pesantren Tahfidz Kiai Marogan Jalan Talang Betutu kota Palembang, Minggu (19/7/2026).
Turut hadir didalam kegiatan ini Kesultanan Palembang Darussalam Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin Sultan Palembang, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Kiai Marogan KH Mgs Ahmad Fauzan Yayan, SQ, Dewan Pembina Yayasan, Pengurus, Zuriyat Ki Marogan Mgs Ahmad Fauzi, Ustadz Fadzlan Garamatan dari Papua Barat, Perwakilan dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Sumsel, Ketua Panitia Kegiatan, dan undangan lainnya.
Dikatakan Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Setda Provinsi Sumsel Ir H Pandji Tjahjanto, S.Hut., M.Si, atas nama Pemprov Sumsel mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara Festival Kiai Marogan Tahun 2026. Salah satu program prioritas Gubernur Sumsel ada beberapa program prioritas, yang prioritas ke sembilan yakni Sumsel berbentuk kreatif ekonomi.
Salah satunya adalah acara wisata budaya, wisata religi, ini sebagai bentuk wisata religi yang kita bersama-sama hadiri pada saat ini. Festival ini bukan sekedar sebuah perayaan, tapi juga merupakan kegiatan bersama untuk mengenang dan mewujudkan perjalanan-perjalanan wisata-wisata yang diperlukan.
“Dimana telah memberikan teladan, bahwa pendidikan Islam merupakan sebagian besar pendidikan dasar, berupa Enterprenuer usaha yang punya softskill,” ujarnya.
Kemudian, festival ini mengusung tema menghidupkan kembali warisan Marogan untuk generasi masa depan sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai keislaman, budaya, dan sejarah Marogan yang telah mengakar di masyarakat Sumsel.
Dimana yang sangat istimewa dihadiri oleh Ustadz Fadzlan Garamatan dari Fakfak Papua Barat, Ustadz KH Masagus Ahmad Fauzan Yayan, SQ selaku Pengasuh Pesantren Tahfiz Kiai Marogan, serta Sultan Iskandar Mahmud Badarudin Sultan Palembang Darussalam.
“Melalui festival ini, Pemprov Sumsel menargetkan terwujudnya 3 hal: penguatan syiar Islam, pelestarian warisan budaya, dan penguatan peran generasi muda dalam menjaga identitas daerah,” ungkapnya.
Menurut Pimpinan Ponpes Tahfidz Kiai Marogan KH Mgs Ahmad Fauzi Yayan, SQ, bahwa Milad ke-16 bukan sekadar peringatan hari lahir pesantren, tetapi menjadi momentum memperluas manfaat pesantren bagi seluruh lapisan masyarakat.
Harapan kami, pesantren ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat luas, mulai dari usia dini hingga usia lansia. Kami ingin semakin banyak orang tua yang dapat belajar agama sekaligus mendapatkan ketenangan, suasana yang menyejukkan, dan healing di lingkungan pesantren.
“Sebagai bentuk inovasi pelayanan pendidikan Islam, Pesantren Kiai Marogan akan resmi membuka Program Pesantren Lansia mulai 1 Agustus 2026. Program tersebut telah didukung fasilitas yang siap digunakan serta didampingi tenaga profesional, termasuk psikolog dan dokter,” katanya.
Dilanjutkannya, saat ini tercatat sekitar 20 peserta lansia telah mendaftarkan diri. Program ini menawarkan berbagai pilihan, mulai dari kegiatan harian tanpa menginap, program MABIT akhir pekan, program mingguan, hingga program bulanan.
Selain memperdalam ilmu agama, para peserta juga diajak mengikuti aktivitas healing melalui berkebun, bersantai di pondok-pondok, serta menikmati suasana alami di tepi sungai yang berada di kawasan pesantren.
“Program tersebut juga memiliki misi sosial yang kuat. Biaya yang dibayarkan peserta lansia akan digunakan sepenuhnya sebagai subsidi silang untuk membiayai pendidikan anak-anak yatim yang menempuh pendidikan di pesantren secara gratis,” ucapnya.
Masih dilanjutkannya, program lansia ini memang berbayar karena sebagian besar peserta memiliki penghasilan atau uang pensiun. Namun seluruh hasilnya kami gunakan untuk membantu pendidikan anak-anak yatim yang belajar di pesantren tanpa dipungut biaya.
Kami ingin tercipta keluarga besar pesantren, di mana para lansia dan anak-anak yatim dapat saling menguatkan dan berbagi kasih sayang.
“Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua panitia yang telah mensukseskan kegiatan Festival Kiai Marogan ini, dan juga kepada seluruh peserta lomba yang mengikuti kegiatan ini,” imbuhnya.
(Anton)

















