PALEMBANG. Berita Suara Rakyat. Com
Peluncuran buku biografi Di Balik Toga Hitam yang mengisahkan perjalanan hidup advokat senior dan politikus Anggota DPRD Sumsel Chairul S. Matdiah mendapat apresiasi luas dari berbagai tokoh nasional maupun daerah. Buku tersebut tidak hanya merekam kiprah Chairul sebagai penegak hukum, tetapi juga mengangkat nilai-nilai perjuangan, integritas, loyalitas, serta semangat kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupannya.
Sejumlah tokoh yang memberikan kata sambutan dalam buku tersebut menilai sosok Chairul S. Matdiah sebagai figur yang konsisten memperjuangkan keadilan, bahkan di tengah berbagai ujian kehidupan yang dihadapinya.
Anggota DPR RI, Ir. H. Ishak Mekki, MM, menyebut peluncuran biografi tersebut bukan sekadar seremoni penerbitan buku, melainkan momentum penting untuk merekam perjalanan seorang pejuang keadilan yang telah memberikan banyak teladan.
Menurut Ishak Mekki, Chairul merupakan sosok yang memiliki loyalitas dan ketulusan luar biasa. Sebagai rekan seperjuangan di Partai Demokrat, ia mengaku telah melewati berbagai dinamika politik bersama Chairul dan menyaksikan secara langsung karakter sahabatnya tersebut.
“Chairul adalah cerminan sejati dari arti loyalitas dan ketulusan. Ia selalu hadir dalam suka maupun duka. Buku ini berhasil menangkap dengan sangat baik watak asli beliau yang teguh memegang prinsip,” ujar Ishak.
Ia juga menilai Chairul sebagai advokat yang tidak pernah menjadikan hukum sebagai komoditas untuk diperjualbelikan. Baginya, profesi hukum maupun dunia politik harus tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat dan kemanusiaan.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan periode 2003–2008, Ir. H. Syahrial Oesman, MM, menyebut Chairul sebagai pejuang keadilan yang selalu menempatkan hati nurani di atas segalanya.
Sebagai sahabat lama, Syahrial mengaku mengenal Chairul sebagai pribadi yang tegas dan tidak pernah bersikap abu-abu dalam memperjuangkan kebenaran.
“Ketika melihat ketidakadilan menimpa rakyat kecil, Chairul akan berada di barisan terdepan tanpa memedulikan siapa yang dihadapinya. Ia tidak bisa didikte oleh kekuasaan maupun silau oleh materi,” ungkap Syahrial.

Menurutnya, buku Di Balik Toga Hitam berhasil menggambarkan secara utuh perjalanan hidup Chairul, mulai dari perjuangannya menjaga integritas profesi, keputusan pensiun demi mempertahankan prinsip hidup, hingga dedikasinya membela masyarakat kecil secara cuma-cuma tanpa mempertimbangkan keuntungan materi.
Apresiasi juga datang dari Ir. H. Irwan Effendi, yang selama ini dikenal sebagai kakak sekaligus sahabat dekat Chairul. Dalam sambutannya, Irwan mengungkapkan hubungan emosional yang terjalin kuat selama bertahun-tahun.
Ia mengenang salah satu momen paling berat dalam kehidupan Chairul, yakni ketika harus menjalani operasi transplantasi ginjal di Mount Elizabeth Hospital, Singapura.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Chairul berjuang di antara hidup dan mati. Di saat tubuhnya lemah karena sakit, saya melihat kekuatan mental yang luar biasa. Alhamdulillah, Allah SWT memberikan mukjizat sehingga hari ini beliau kembali berdiri tegak dan terus menebar manfaat bagi banyak orang,” tulis Irwan.
Baginya, Chairul adalah sosok yang tetap kokoh menghadapi berbagai cobaan hidup dan terus menjadi tempat bersandar bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Sementara itu, akademisi dan praktisi hukum Dr. Bambang Hariyanto, SH, MH, yang merupakan mentor sekaligus sahabat lama Chairul, mengaku mengikuti perjalanan karier dan kehidupan Chairul sejak awal berkiprah di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang.
Bambang mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat hidup Chairul yang tidak pernah padam meskipun berkali-kali menghadapi persoalan kesehatan serius, termasuk operasi jantung dan transplantasi ginjal.

“Saya menyaksikan langsung bagaimana ia menjalani operasi jantung hingga cangkok ginjal. Semangatnya berada di atas rata-rata. Chairul tidak pernah menyerah terhadap keterbatasan fisik yang dialaminya,” kata Bambang.
Menurutnya, Chairul justru menjadikan setiap ujian kehidupan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Kisah perjuangan tersebut, lanjut Bambang, selalu ia ceritakan kepada banyak orang sebagai sumber inspirasi bahwa setiap persoalan hidup dapat dihadapi dengan optimisme dan kerja keras.
Buku Di Balik Toga Hitam tidak hanya menyajikan perjalanan seorang advokat yang konsisten memperjuangkan keadilan, tetapi juga menghadirkan kisah tentang keteguhan menghadapi cobaan, loyalitas dalam persahabatan, serta dedikasi terhadap kemanusiaan.
Melalui berbagai testimoni dari para tokoh yang mengenalnya dekat, sosok Chairul S. Matdiah digambarkan sebagai pribadi yang teguh memegang prinsip, berani memperjuangkan kebenaran, dan tidak pernah berhenti mengabdi kepada masyarakat meski berkali-kali diuji oleh kondisi kesehatan yang berat.
Buku ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda, para praktisi hukum, maupun masyarakat luas tentang arti integritas, keberanian, dan pengabdian yang sesungguhnya.
(Yanti)
















