PALEMBANG. Beritasuararakyat.com — Prestasi di tingkat nasional menjadi awal bagi Landy Sativa untuk membawa misi yang lebih luas. Siswa kelas XII SMAN Sumatera Selatan itu tak ingin gelar Duta SMA Sumatera Selatan 2026 dan Duta SMA Informatif 2026 Tingkat Nasional hanya menjadi pencapaian pribadi.
Di balik selempang yang diraihnya, Landy bersama pasangannya tengah menyiapkan sebuah gagasan berkelanjutan bertajuk “What If Progress”, yang menyasar persoalan perilaku berisiko di kalangan remaja, khususnya pelajar yang berada di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui pembentukan jaringan komunitas pelajar bernama “Sahabat Progres”. Komunitas ini dirancang menjadi ruang bagi siswa dari berbagai sekolah mitra untuk saling berbagi informasi, pengalaman, sekaligus menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi kepada sesama pelajar.
Bagi Landy, persoalan yang dihadapi remaja saat ini semakin kompleks. Tidak hanya menyangkut persoalan akademik, tetapi juga kesehatan mental, pertemanan, pergaulan, hingga kemampuan menyaring informasi di tengah derasnya perkembangan teknologi.
“Saya menyadari tantangan siswa saat ini sangat kompleks, mulai dari isu kesehatan mental hingga masalah pertemanan. Melalui wadah Duta SMA, saya ingin berkontribusi masuk ke dalam sistem untuk memperjuangkan akses informasi yang inklusif bagi seluruh pelajar tanpa terbatas latar belakang atau geografis,” ujar Landy.
Menurutnya, kesenjangan akses informasi menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Pelajar di berbagai daerah memiliki kebutuhan edukasi yang sama, namun belum tentu memperoleh kesempatan dan akses yang setara.
Karena itu, melalui What If Progress, Landy ingin mendorong model edukasi yang tidak berhenti pada satu kegiatan atau kampanye sesaat. Kehadiran Sahabat Progres diharapkan dapat menjadi jejaring yang membuat proses berbagi pengetahuan dan pendampingan antarpelajar terus berlangsung.
“Harapannya, edukasi yang diberikan tidak berhenti di tengah jalan. Kami ingin membangun jejaring antarpelajar dari berbagai sekolah agar mereka bisa saling berbagi informasi dan menjadi bagian dari solusi,” katanya.
Bagi Landy, penghargaan sebagai Duta SMA Informatif justru menghadirkan tanggung jawab baru. Ia dituntut tidak hanya mampu menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan informasi tersebut edukatif, aktual, faktual, dan mudah dipahami oleh pelajar.
Tanggung jawab itu harus dijalankan di tengah kesibukannya sebagai siswa kelas XII. Saat ini, Landy juga tengah mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) serta menghadapi persiapan Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat Nasional yang akan berlangsung pada 31 Agustus mendatang.
Ia mengaku tantangan tersebut membuat kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas menjadi sangat penting.
“Manajemen waktu dan skala prioritas menjadi kunci. Saya harus tetap fokus pada pendidikan, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sebagai Duta SMA,” ujarnya.
Pengalaman berorganisasi dan mengikuti berbagai kegiatan selama bersekolah di SMAN Sumatera Selatan, kata Landy, turut membentuk keberaniannya untuk mengambil peran lebih besar.
Sebagai siswa sekolah berasrama, ia juga mengaku banyak memperoleh pembelajaran mengenai kedisiplinan, kemandirian dan pentingnya menghargai orang lain.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Landy untuk membawa gagasan yang lebih luas setelah memperoleh kepercayaan sebagai Duta SMA.
Ia pun berpesan kepada siswa lain agar tidak menjadikan kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
“Meskipun starting point kita bukan berasal dari keluarga berada, jangan pernah berkecil hati. Manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Selempang ini bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar sebagai representasi pelajar Sumatera Selatan,” tuturnya.
Kepala SMAN Sumatera Selatan, Iswan Djati Kusuma, S.Pd., M.Si., mengapresiasi capaian sekaligus gagasan yang dibawa Landy. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa pembinaan siswa di sekolah tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik, tetapi juga kepemimpinan dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
“Kami keluarga besar SMAN Sumsel sangat gembira. Capaian ini luar biasa, membuktikan anak yang tumbuh dari kesederhanaan mampu menembus prestasi nasional. Ini adalah kerja keras bersama—guru, staf asrama, hingga dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan,” kata Iswan.
Ia menilai keberanian Landy membawa persoalan pelajar ke tingkat nasional merupakan bagian penting dari proses pendidikan karakter.
Menurutnya, seorang siswa berprestasi tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Lebih dari itu, siswa harus mampu menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Iswan pun mengingatkan Landy untuk tetap rendah hati dalam menjalankan amanah tersebut.
“Seperti nama Sativa, ibarat padi semakin berisi harus semakin menunduk. Semakin berilmu tidak boleh sombong dan tetap ingat bahwa semua pencapaian ini atas ridho Allah SWT,” ujarnya.
Ia berharap dukungan terhadap pengembangan potensi siswa terus diperkuat melalui sinergi sekolah dan Dinas Pendidikan Sumatera Selatan.
“Semoga sinergi bersama Dinas Pendidikan Sumsel terus terjaga agar SMAN Sumsel konsisten melahirkan SDM unggul bagi daerah dan bangsa,” pungkasnya.
Bagi Landy, gelar Duta SMA Informatif 2026 pada akhirnya bukan sekadar simbol keberhasilan. Selempang tersebut menjadi pengingat bahwa semakin besar ruang yang diberikan kepada seorang pelajar, semakin besar pula tanggung jawab untuk membawa manfaat bagi pelajar lainnya.
Melalui What If Progress dan Sahabat Progres, Landy kini mencoba mengubah prestasi personal menjadi gerakan yang dapat menjangkau lebih banyak siswa, termasuk mereka yang selama ini berada jauh dari pusat akses informasi dan edukasi.
(Yanti)
















