Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Beberapa waktu yang lalu, dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumsel melalui Bidang PKLK Disdik Provinsi Sumsel menggelar pembukaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Provinsi Sumsel Tahun 2026 bertempat di gedung Syahrial Oesman di Sekolah Menengah Pertama-Sekolah Menengah Atas (SMP-SMA) Sekolah Olahraga Negeri Sriwijaya (SONS) Palembang Provinsi Sumsel.
Dimana kegiatan tersebut dihadiri Kepala Disdik Provinsi Sumsel Hj Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd, Kepala Bidang PKLK Disdik Provinsi Sumsel sekaligus Ketua Pelaksana O2SN Tingkat Provinsi Sumsel Tahun 2026 , jajaran pejabat Disdik Sumsel, Kepala Sekolah (Kepsek) SMP-SMA SONS, para panitia O2SN, serta ratusan peserta O2SN jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan MTs dari 16 kabupaten/kota se-Sumsel.
Dikatakan Kepsek SMP-SMA SONS Aliyuddin Asral, S.Pd., M.Si., M.Pd, secara keseluruhan kami diberikan kepercayaan untuk menyelenggarakan “sebagai tuan rumah penyelenggara”. Jadi dari di lihat dari kegiatan tersebut, maka dikatakan sukses.
Kita tetap melaksanakan kegiatan tersebut yang pertama indikatornya peserta mendapatkan pelayanan, mereka benar-benar bisa menikmati pertandingan tersebut, diluar hasil menang kalahnya.
“Kedua kita memfasilitasi seperti tempat-tempat tanding atau venue itu sesuai dengan standar. Seperti atletik, ada panjat tebing,, ada renang, ada bulu tangkis, ada senam baru untuk Sekolah Dasarnya, itu memang sudah sesuai dengan standar,” ujarnya.
Kemudian, lalu ada juga yang untuk disabilitas, mereka juga di ampuh, di bina, dilaksanakan oleh orang-orang yang benar-benar berkompeten dalam hal ini dari Sekolah Nayza Nur Ilmi yang sekarang baru diresmikan oleh Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru, S.H., M.M.
Dari sana kan itu adalah sekolah yang disabilitas, dan mereka mengolahnya, secara keselurahan kegiatan O2SN ini SD maupun SMP bisa terlaksana dengan baik. Dan ini adalah satu hal yang sangat-sangat boleh dikatakan dari penyelenggaraan kita menjadi lebih baik daripada tahun kemarin.
“O2SN ini adalah program nasional, jadi kita melaksanakan ini untuk mencari seleksi pada tingkat provinsi. Karena nanti di bulan Agustus 2026 itu akan dilaksanakan O2SN tingkat nasional di Jakarta,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, kemarin kita melaksanakan kegiatan O2SN provinsi adalah sebagai bentuk pintu seleksi, jadi kita sebenarnya pada tingkat ini ya tidak ada yang namanya uang pembinaan atau pun apa. Kita hanya memberikan simbol pertama memang sertifikat, dan yang kedua adalah berupa medali.
Ini akan dikembalikan ke kabupaten/kota masing-masing, tapi para pemenang yang nomer satu itu akhirnya akan diberangkatkan mewakili provinsi Sumsel.
“Makanya secara keseluruhan, sebenarnya kegiatan ini sudah pas, memang juga kegiatan rutinitas kita setiap tahun dan menghasilkan anak-anak yang tangguh untuk mewakili provinsi Sumsel pada tingkat event nasional O2SN seperti itu,” katanya.
Masih dilanjutkannya, kalau SONS adalah sekolah olahraga, sesuai dengan aturan pemerintah, SONS tidak boleh mengikuti O2SN. Kalau pembinaan atlet itu berbeda, jadi O2SN itu pesertanya dari sekolah reguler yang mempunyai kegiatan olahraga yang bersifat ekstrakurikuler.
Dimana ekstrakulikuler ini biasanya dilaksanakan oleh pihak sekolah maksimal paling 2-3 sekali, biasanya 1 kali seminggu. Justru itu apabila sekolah khusus olahraga di sebut di Indonesia ini SKO namanya itu akan menjadi timpang.
“Karena anak-anak SONS ataupun anak-anak sekolah yang suka olahraga, dimana olahraganya kan setiap hari. Jadi mereka tidak diperkenankan dan tidak boleh secara aturan apabila sekolah olahraga apapun namanya,” ucapnya.
Masih disampaikannya, kalau kita sekolah olahraga nasional sriwijaya, kalau ada di Lampung SKO, yakni Sekolah Khusus Olahraga Lampung, itu namanya saja yang berbeda, tapi intinya mereka adalah sekolah olahraga, dan regulasinya untuk O2SN, SKO tidak diperkenankan ikut, dan berbeda.
Sebenarnya anak-anak sekolah itu fluktuatif ya, jadi tidak bisa ditakar seperti untuk pekan olahraga provinsi (Porprov) dan pekan olahraga nasional (PON). Kenapa demikian, mereka ini hanya di bina, hanya tiga tahun.
“Jadi ada kelas 1, kelas 2, atau kelas 10, kelas 11, kelas 12 habis, dan kelas 12 juga hanya pas semester lima. Jadi apabila mereka misalnya punya prestasi itu naik turun,” imbuhnya.
Ditambahkannya, karena di tahun ini anak-anak bagus ni, tahun depan mereka sudah tamat, jadi tidak bisa berkelanjutan. Karena ini sebenarnya lebih kecenderungan untuk menilik secara detail anak-anak punya prestasi tapi tingkat sekolah, bukan anak-anak prestasi yang memang didik untuk menjadi olahragawan.
Kalau bahasa kita ini sampingan, dan sampingan anak ini sambil sekolah belajar, kegiatan olahraga karate misalnya, kan seminggu sekali cuma. Dan inilah diberi ruang kepada anak-anak ini untuk mereka mendapatkan kesempatan.
“Apabila mereka berkompetisi dengan sesungguhnya, mereka pasti kalah, dan pasti kalah apabila berkompetisi. Sebagai contoh di Popnas misalnya, dan Popda itu boleh, siapa pun boleh ikut disana. Kalau mereka disana itu adalah orang-orang profesional, yang memang benar-benar latihan, benar-benar diolah, mereka untuk menjadi atlet,” bebernya.
(Anton)
















