Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel Dr Drs H Edward Candra, M.H yang didampingi oleh Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sumsel Dr Darmayanti, S.E., M.M, menghadiri serta membuka rapat peningkatan kapasitas tim efektif dengan judul “Strategi tata kelola gerakan sumsel mandiri pangan (GSMP) melalui penerapan manajemen resiko” yang diselenggarakan oleh Biro Umum dan Perlengkapan Setda Sumsel bertempat di ruang rapat Biro Umum dan Perlengkapan Setda Sumsel, Rabu (9/9/2026).
Dikatakan Sekda Provinsi Sumsel Dr Drs H Edward Candra, M.H, saya menegaskan pentingnya penerapan manajemen resiko secara komprehensif untuk mengawal keberlanjutan program GSMP.
Keberhasilan program kerakyatan tidak cukup hanya berhenti pada tataran dokumen perencanaan atau standar operasional prosedur (SOP), melainkan harus diimplementasikan secara nyata melalui pengawalan ketat dan pendampingan dilapangan.
“Seluruh instrumen dan SOP yang ada harus diimplementasikan secara optimal, jika tidak perencanaan itu hanya akan berhenti diatas kertas dan perlu didorong bersama,” ujarnya.
Kemudian, penerapan manajemen resiko dalam GSMP dirancang untuk menekan berbagai potensi kendala dilapangan, mulai dari mengantisipasi resiko gagal tanam, seperti penanganan distribusi bibit hingga memitigasi ketidakberhasilan akibat kurangnya sinergi antar multi stakeholder.
Untuk menutup celah tersebut, pemerintah daerah (pemda) terus memperkuat peran pendampingan dilapangan serta mengoptimalkan efektivitas forum koordinasi yang telah dibentuk guna melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait.
“Penerapan konteks manajemen resiko yang disampaikan oleh narasumber tadi, sudah mulai kita terapkan untuk mengawal program ini agar mencapai hasil yang optimal,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, hasil yang baik ini kita definisikan secara jelas, yakni efektif, kolaboratif, dan berkelanjutan. apa yang digagas didalam proyek perubahan ini yaitu mengenai tata kelola GSMP.
Maka didalamnya ada tahapan-tahapan yang GSMP ini merupakan program unggulan, sehingga GSMP ini terus membooming dan menjadi bekal yang masif dilaksanakan oleh masyarakat.
“Mereka memanfaatkan pekarangan secara mandiri, menanam tanaman-tanaman yang biasa ringan, yang kemudian bisa menopang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari secara mandiri,” katanya.
Menurut Narasumber Dr Ir H Syarif Usman, M.B.A., M.H, namanya kebakaran hutan sekarang ini namanya masalah, tetapi kebakaran hutan tahun depan itu resiko, atau kebakaran hutan bulan depan itu resiko karena belum terjadi.
Dari definisi yang tadi, kami garis bawahi data kemungkinan kejadian, dimana kemungkinan kejadian itu ketidakpastian dan kerugian. Kenapa kita definisikan ada tiga komponen ini, karena dari dua komponen yakni kemungkinan dan kerugian itu bisa kita formula kan, bisa kita kembangkan.
“Jadi yang namanya resiko itu merupakan perkalian antara kemungkinan kejadian dengan kerugian. Jadi kalau kemungkinan kejadian itu kita bisa hitung per bagi problemitasnya,” ucapnya.
Masih dilanjutkannya, kalau kerugian itu biasanya dalam bentuk rupiah atau dollar, sehingga resiko itu besarannya atau nilainya itu merupakan perkalian antara kemungkinan kejadian dengan kerugian. Karena kalau resiko itu kita berbicara masa yang akan datang.
Misal kan terkait dengan konflik geopolitik yang memutus rantai pasok, penguasaan selat itu sudah oleh Iran itu sudah masalah, tapi di wilayah lain bisa saja terputusnya mata rantai pasok, karena ada konflik geopolitik, yang belum terjadi itu namanya resiko.
“Biasanya kalau dari resiko itu kan yang menjadi penentu utama itu identifikasinya. Untuk melihat adanya resiko atau tidak, identifikasinya tadi itu kita melihat dengan membaca tanda-tandanya,” imbuhnya.
(Anton)
















