Dari Banjir hingga Ular Masuk Rumah, Potret Keresahan Warga RT 22 RW 06 Talang Jambe 

PALEMBANG – Warga RT 22 RW 06, Kelurahan Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, kembali menyuarakan harapan agar Pemerintah Kota Palembang dan Pemprov Sumsel segera merealisasikan normalisasi Sungai Kerawo.
Bagi warga, persoalan banjir yang mereka alami bukan lagi sekadar genangan musiman, melainkan masalah yang terus berulang dan mengganggu kehidupan sehari-hari saat hujan turun.
Ketua RT 22 RW 06, Faisol, mengatakan banjir yang melanda wilayahnya memiliki karakteristik berbeda. Air justru menggenang beberapa saat setelah hujan berhenti, bukan ketika hujan sedang turun.
“Kalau tidak dinormalisasi, wilayah RT 22 akan terus kebanjiran. Yang menjadi persoalan, banjir kami bukan saat hujan turun, tetapi setelah hujan reda. Air dari wilayah RT 18 dan RT 20 semuanya mengalir ke RT 22 karena drainase yang ada sudah dangkal,” kata Faisol, Rabu (29/7/2026)
Menurutnya, pendangkalan saluran drainase membuat aliran air tidak lagi lancar. Akibatnya, air tertahan di kawasan permukiman dan menggenangi rumah-rumah warga, terutama di sejumlah kompleks perumahan yang berada di RT 22.
Faisol menjelaskan, titik paling krusial berada di ujung saluran yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Banyuasin. Di lokasi tersebut, aliran air tidak dapat mengalir dengan baik sehingga menjadi penyebab utama banjir.
“Normalisasi yang kami harapkan berada di wilayah perbatasan menuju Banyuasin. Sampai sekarang penanganan dari Kota Palembang hanya sampai kawasan Perumahan Griya Bersama. Air akhirnya berhenti di sana dan meluap ke permukiman warga,” ujarnya.
Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga menimbulkan ancaman keselamatan. Saat banjir terjadi, berbagai hewan liar, termasuk ular, kerap masuk ke rumah warga.
“Kalau banjir, ular sering masuk rumah. Ini yang membuat warga khawatir, apalagi banyak anak-anak,” katanya.
Selama ini, kata Faisol, usulan normalisasi Sungai Kerawo telah berulang kali disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) maupun saat kegiatan reses anggota legislatif.
Namun hingga kini, realisasi yang dinanti belum juga terlaksana.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan proposal melalui Musrenbang. Saat reses juga sudah kami sampaikan. Tinggal menunggu realisasi saja,” ujarnya.
Ia menilai salah satu kendala utama adalah lokasi yang berada di kawasan perbatasan administrasi Kota Palembang dan Kabupaten Banyuasin.
Padahal, meski di wilayah Banyuasin tersebut belum terdapat permukiman warga, normalisasi tetap diperlukan agar aliran air dari Palembang dapat mengalir dengan lancar.
Selain itu, Faisol juga menyoroti saluran besar di sepanjang pagar PT Indofood yang dinilai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
Menurutnya, endapan lumpur dan bekas pagar beton yang berada di sepanjang aliran semakin menghambat laju air.
“Di sepanjang pagar PT Indofood ada parit besar yang juga perlu dinormalisasi. Sedimen yang menumpuk membuat aliran air semakin terhambat. Kalau tidak segera dibersihkan, banjir akan semakin parah,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa dampak banjir tidak hanya dirasakan warga RT 22. Apabila Sungai Kerawo tidak segera dinormalisasi, genangan berpotensi meluas ke sejumlah wilayah lain, seperti RT 18, RT 20, RT 23, hingga RT 24.
“Sungai Kerawo ini menjadi kunci. Kalau belum dinormalisasi, bukan hanya RT 22 yang terdampak, tetapi wilayah sekitar juga akan merasakan banjir,” ujarnya.
Faisol mengungkapkan, normalisasi sebenarnya pernah dilakukan pada 2023. Saat itu, kondisi banjir sempat berkurang meski belum sepenuhnya hilang. Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan pengerukan kembali, tetapi juga membangun talud agar aliran sungai lebih kuat dan tidak mudah mengalami pendangkalan.
“Harapan kami bukan hanya normalisasi, tetapi juga pembangunan talud sehingga persoalan banjir bisa diatasi secara permanen,” katanya.
Saat ini RT 22 RW 06 dihuni sekitar 1.400 kepala keluarga yang tersebar, serta terdapat 14 kompleks perumahan dan banyak warga yang tempat tinggal disini menggunakan domisili. Dengan jumlah penduduk yang cukup besar, Faisol berharap penanganan Sungai Kerawo menjadi salah satu prioritas pembangunan agar masyarakat dapat terbebas dari ancaman banjir yang terus berulang setiap musim hujan.
(Yanti)

Pos terkait