Palembang. Berita Suara Rakyat. com
Serikat Pekerja Pertamina Patra Niaga Sumbagsel (SP3NSBS) turut angkat bicara dan menyatakan sikap kritis terhadap wacana integrasi PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) ke dalam entitas PT Elnusa Tbk. Pihak serikat menggarisbawahi bahwa setiap langkah korporasi harus senantiasa mengutamakan kedaulatan energi nasional di atas segalanya.
Ketua Umum SP3N-SBS, Dody Syafatra Surya, pada kesempatan ini membuka pernyataan bahwa secara prinsip organisasi serikat pekerja sangat terbuka terhadap segala bentuk strategi optimalisasi, efisiensi, maupun penyegaran struktur bisnis di tubuh Pertamina. Namun, SP3N-SBS dipastikan akan berada di garis terdepan untuk menolak jika langkah streamlining tersebut berpotensi melemahkan kontrol mutlak negara terhadap sektor strategis seperti hulu migas.
“Kami sama sekali tidak anti terhadap efisiensi korporasi. Kendati demikian, kami menolak keras apabila dalih restrukturisasi ini justru menjadi jalan pintas yang mereduksi kedaulatan negara atas bisnis drilling. Aset vital yang telah dipertahankan dan dibesarkan selama puluhan tahun tidak boleh sampai lepas dari kendali penuh negara,” tegas pernyataan resmi SP3NSBS di Palembang.
Nilai Tak Berwujud yang Tak Bisa Dibeli
Lebih lanjut, SP3N-SBS menyoroti rekam jejak panjang PDSI sebagai pilar utama eksplorasi dan eksploitasi migas di Tanah Air. Serikat memandang bahwa kekuatan sejati PDSI tidak semata-mata terletak pada valuasi aset fisik perusahaan, melainkan pada intellectual capital yang telah mengakar kuat.
Hal ini mencakup jam terbang tinggi di lapangan, keandalan rekayasa teknis (engineering capability), kedisiplinan budaya keselamatan kerja, hingga kekayaan basis data formasi geologi migas di seluruh penjuru Indonesia.
“Infrastruktur fisik seperti rig atau alat berat mungkin bisa dibeli kapan saja jika ada modal. Namun, keahlian operasional puluhan tahun, pemahaman karakter formasi bumi Nusantara, dan kultur safety adalah mahakarya yang tidak bisa diciptakan dalam semalam. Ini adalah fondasi hulu migas kita,” bunyi rilis SP3N-SBS.
Jika pilar pengeboran ini dilemahkan, SP3N-SBS memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, melainkan akan mengancam kapabilitas mandiri bangsa dalam mengelola lumbung energinya di masa depan.
“Tujuan SP3N-SBS menyuarakan ini sangat jelas. Kami tidak sekadar membela eksistensi sebuah nama perusahaan, melainkan memagari kompetensi esensial bangsa ini agar tetap berdaulat. Memastikan bahwa aset-aset penentu hajat hidup orang banyak tetap berada 100 persen di tangan Negara merupakan harga mati,” tegasnya.
(Yanti/rilis)
















