Gubernur Sumsel Herman Deru Beri Bantuan Untuk Hidupkan Asa Masjid Al-Kautsar

PALEMBANG. Berita Suara Rakyat.Com

Lantunan doa masih menggema di Masjid Al-Kautsar, Sukawinatan, Kecamatan Sukarami, Palembang, Jumat (24/7/2026), ketika Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru berdiri di hadapan ratusan jamaah usai menunaikan Salat Jumat. Hari itu bukan hanya menjadi penanda diresmikannya masjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat selama enam tahun, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi pengurus dan warga yang selama ini bergotong royong menyelesaikan rumah ibadah tersebut.

Di tengah suasana yang penuh kekhidmatan, Herman Deru menyampaikan pesan sederhana, namun sarat makna. Menurutnya, kemegahan sebuah masjid tidak hanya diukur dari luas bangunan atau indahnya arsitektur, melainkan dari seberapa hidup rumah ibadah itu oleh aktivitas keagamaan masyarakat.

“Saya senang sekali tadi bisa salat bersama di sini. Ada masjid yang besar dan mewah, tetapi isinya hanya dua saf. Ada juga yang proporsional. Nah, Masjid Al-Kautsar ini termasuk yang proporsional,” ujar Herman Deru, disambut tepuk tangan jamaah.

 

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa fungsi utama masjid adalah mempersatukan umat. Sebuah masjid akan bernilai ketika dipenuhi jamaah, menjadi tempat menimba ilmu agama, mempererat silaturahmi, sekaligus melahirkan berbagai kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Gubernur juga mengingatkan bahwa membangun masjid bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan fisik. Di balik setiap bata yang tersusun dan setiap tiang yang berdiri, terdapat tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dijaga bersama.

“Membangun masjid ini pertanggungjawabannya tidak sebatas material,” tegasnya.

 

Pesan tersebut terasa semakin menyentuh ketika pengurus Masjid Al-Kautsar menyampaikan bahwa pembangunan rumah ibadah itu masih menyisakan utang kepada toko bangunan. Selain itu, pembangunan menara sebagai bagian dari penyempurnaan masjid juga belum dapat direalisasikan karena keterbatasan dana.

Mendengar hal itu, Herman Deru tak sekadar memberikan semangat. Ia langsung mengulurkan bantuan pribadi sebesar Rp15 juta. Tidak berhenti di situ, ia mengajak para tamu undangan yang hadir untuk ikut berbagi.

“Dari saya Rp15 juta, Pak Dirut Rp5 juta, BAZNAS Rp5 juta,” ujarnya.

 

Ajakan tersebut disambut antusias. Satu demi satu para tamu yang hadir menyatakan kesediaannya memberikan bantuan. Dalam waktu singkat, donasi yang terkumpul mencapai sekitar Rp70 juta. Nominal itu menjadi angin segar bagi pengurus masjid untuk melunasi kewajiban yang masih tersisa sekaligus melanjutkan pembangunan yang belum rampung.

Bagi Ketua Masjid Al-Kautsar, H. Musa bin H. Munir, perhatian yang diberikan Gubernur Sumsel menjadi penyemangat baru bagi seluruh warga yang selama bertahun-tahun bergotong royong membangun masjid tersebut.
Menurutnya, Masjid Al-Kautsar berawal dari sebuah musala sederhana yang dibangun dengan kemampuan masyarakat sekitar. Sedikit demi sedikit, melalui swadaya dan semangat kebersamaan, bangunan itu berkembang menjadi masjid yang kini menjadi kebanggaan warga Sukawinatan.

“Masjid ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat selama enam tahun. Awalnya hanya berbentuk musala. Alhamdulillah hari ini Bapak Gubernur hadir dan memberikan bantuan sehingga sangat meringankan beban pengurus untuk menyelesaikan kewajiban kami,” ungkap Musa dengan penuh syukur.

Bagi masyarakat sekitar, peresmian Masjid Al-Kautsar bukan sekadar penandatanganan prasasti atau seremoni pemerintahan. Momen itu menjadi simbol bahwa semangat gotong royong yang telah mereka rawat selama bertahun-tahun mendapat perhatian dan dukungan.

Kini, harapan baru pun tumbuh. Bukan hanya untuk menyelesaikan pembangunan menara atau melunasi sisa utang, tetapi juga agar Masjid Al-Kautsar terus dipenuhi jamaah di setiap waktu salat, menjadi pusat pembinaan umat, tempat anak-anak belajar mengaji, serta ruang yang menguatkan persaudaraan di tengah masyarakat.

Di balik dinding-dinding masjid yang berdiri kokoh, tersimpan kisah tentang kebersamaan, kepedulian, dan keyakinan bahwa rumah ibadah akan benar-benar hidup ketika dipenuhi langkah kaki orang-orang yang datang untuk beribadah dan berbagi kebaikan.

(Yanti)

Pos terkait