Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Perguruan Tinggi Swasta Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sumpah Pemuda (PTS STIHPADA) Palembang gelar Internasional Conference dengan mengundang narasumber dari luar negeri yang sangat kompeten dan kegiatan ini juga sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Perguruan Tinggi (PT).
Turut hadir didalam kegiatan ini yakni Ketua PTS STIH Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang Assoc Prof Dr H Firman Freaddy Busroh, S.H , M.Hum., CTL., CMN, Wakil Ketua I STIH Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang Assist Prof Dr Hj Erleni, S.H., M.H, Wakil Ketua II STIH Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang Assoc Prof Dr Hj Fatria Kairo, STP., S.H., M.H., CTL, Wakil Ketua III STIH Sumpah Pemuda Palembang Assist Prof Dr H Herman Fikri Tegoeh, S.E., S.H., M.H, Kepala Program Studi Sarjana Strata Satu Ilmu Hukum STIH Sumpah Pemuda Palembang Assist Prof Dr Evi Octarina, S.H., M.H, serta undangan lainnya dari Perguruan Tinggi yang ada.
Sebagai keynote speaker yakni Chairman of Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS) Former Head of National Research and Innovation Agency (BRIN), Indonesia Prof Dr Ir Hammam Riza, M.Sc., IPU, Welcome Speach Chairman of APPTHI, Indonesia Prof Dr Edy Lisdiyono, S.H., M.H, Vice Chairman Asean Legal Network Grouo, Malaysia Prof Jady Zaidy Hassim, Invited Speakers Director, German Southeast Asian Center of Excellent for Public Policy and Good Governance Thammasat University, Thailand Dr Peter Verhezen, dan lain sebagainya.
Adapun tema Internasional Conference yakni Artificial Intelligence and The Digital Commons : Tomowards and Inclusive and Ethical Tech Future”. Dan kegiatan ini sendiri dipusatkan di gedung ballroom Griya STIH Sumpah Pemuda (STIHPADA) Palembang, Kamis (16/4/2026).
Dikatakan Chairman of Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS) Former Head of National Research and Innovation Agency, Indonesia Prof Dr Ir Hammam Riza, M.Sc., IPU, kita ingin membahas bagaimana tantangan-tantangan terkait dengan pemanfaatan Artificial Intelligence, mengenal Artificial Intelligence, produksi Artificial Intelligence itu dapat dilakukan secara beretika, inklusif, dan juga memperhatikan semua nilai-,nilai ataupun norma-norma kemanusiaan.
“Disana ada inklusivitas transparansi, dia bisa menjelaskan, dia bisa memberikan dampak yang baik kepada manusia. Tapi kita juga harus memahami tentang resiko-resiko yang mungkin muncul dalam penggunaan Artificial Intelligence,” ujarnya.
Kemudian, itulah yang saya jadikan fokus dalam mitigasi resiko terhadap penggunaan Artificial Intelligence, digunakan untuk untuk cyber attacks, dipakai untuk membuat senjata bio kimia, dan lain sebagainya. Ini semua adalah hal-hal yang harus kita perhatian dan ini sebenarnya menjadi perhatian dari dunia.
“Didalam Internasional Safety, Artificial Intelligence Safety Record tahun 2026 yang kemarin diluncurkan di India, Artificial Intelligence Effect summit di mana saya adalah satu diantara 100 pakar dunia dari 30 negara yang ikut menuliskan dan menghasilkan Internasional Artificial Intelligence Safety Report,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, ini merupakan sebuah gambaran kemajuan Artificial Intelligence dan juga pemahaman kita terhadap resiko-resiko yang di timbulkan oleh penggunaan Artificial Intelligence ini. Sehingga kita semua didalam membangun dan mengadopsi berbagai teknologi khususnya didalam era revolusi industri ini 4.0, kita betul-betul memahami bagaimana Artificial Intelligence itu.
“Ada 4 fokus yang menjadi perhatian kami dari Asosiasi KORIKA, Kolaborasi Reset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artificial ataupun Artificial Intelligence, yaitu terkait dengan bagaimana kita membangun data dan infrastruktur,” katanya.
Masih dilanjutkannya, bagaimana kita mengembangkan sumber daya manusianya (SDM), talenta-talentanya, dan bagaimana kita memperhatikan etika dan kolusi, yakni kolusi frame wok, dan tentu saja apa yang bisa kita bangun. Apakah Artificial Intelligence untuk kesehatan, apakah untuk hukum, apakah untuk pertanian, dan ini semua adalah inovasi.
“Kita harus terus menumbuhkan inovasi ini, jangan kita membuat orang takut terhadap Artificial Intelligence. Karena Artificial Intelligence itu bekerja dalam kendali manusia, itu yang kita harapkan. Ini juga yang saya terus dorong agar Indonesia memiliki strategi direction untuk adopsi pengembangannya,” ucapnya.
Masih disampaikannya, luar biasa, jadi di Indonesia ini mungkin dari perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia tentunya industri itu hampir 70 persen sudah mengurangi mengadopsi. Paling tidak dia sudah mempersiapkan, bagaimana pekerjaan dan produk-produknya dia ataupun bisnis proses dia di perusahaan misalnya apakah dia BUMN atau swasta, semua sudah mengadopsi itu.
“Jadi mahasiswa itu tidak boleh ketinggalan dalam menggunakan Artificial Intelligence dari sejak awal, jangan nunggu sampai lulus baru pakai Artificial Intelligence, dari sekarang sudah harus pakai Artificial Intelligence,” imbuhnya.
(Anton)
















