PALEMBANG. Berita Suara Rakyat. Com
Waktu adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia dalam jumlah yang sama. Dua puluh empat jam sehari, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, ketika seorang laki-laki memasuki fase dewasa, menikah, menjadi suami dan ayah, makna waktu berubah.
Waktu bukan lagi sekadar milik pribadi. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kasih sayang, komitmen, dan amanah terhadap orang-orang yang menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Seorang laki-laki mungkin dahulu bebas menentukan ke mana waktunya akan digunakan. Setelah dewasa, ia harus mulai memahami bahwa ada orang tua yang harus dihormati dan diperhatikan, istri yang membutuhkan kehadiran, anak yang membutuhkan pendampingan, serta dirinya sendiri yang tetap membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Gagasan ini sejalan dengan perspektif dalam disertasi Dr. Mirna Ari Mulyani, M.Pd., di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengenai kesiapan kerja mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Dalam perspektif kesiapan kerja, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis. Ia juga membutuhkan kematangan pribadi, tanggung jawab, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menjalankan berbagai peran kehidupan.
Dari “Saya” Menjadi “Kami”
Kedewasaan seorang laki-laki dapat dilihat dari perubahan cara berpikir.
Ketika masih berorientasi pada diri sendiri, pertanyaannya mungkin:
“Apa yang saya inginkan?”
Namun ketika memasuki kehidupan keluarga, pertanyaannya berkembang menjadi:
“Apa yang dibutuhkan keluarga saya?”
Perubahan sederhana ini sebenarnya menunjukkan proses kematangan.
Ia mulai memahami bahwa keputusan yang dibuatnya dapat berdampak kepada istri, anak, orang tua, bahkan lingkungan sosialnya.
Karena itu, kesiapan menjadi seorang laki-laki dewasa tidak hanya berkaitan dengan kesiapan ekonomi. Ada pula kesiapan psikologis, sosial, emosional, spiritual, dan tanggung jawab.
Inilah yang kemudian relevan dengan konsep work readiness. Kesiapan menghadapi dunia kerja pada dasarnya bukan sekadar kesiapan mendapatkan pekerjaan, tetapi kesiapan seseorang untuk menjalankan peran secara bertanggung jawab.
Empat Pemilik Waktu Seorang Laki-Laki
Jika direnungkan, waktu seorang laki-laki dewasa setidaknya terbagi ke dalam empat ruang besar.
Pertama, untuk Orang Tua
Seorang anak laki-laki boleh tumbuh dewasa, memiliki pekerjaan, menikah, dan membangun kehidupannya sendiri.
Namun status sebagai anak tidak pernah benar-benar selesai.
Orang tua tetap membutuhkan perhatian, komunikasi, penghormatan, dan kehadiran anak-anaknya.
Kesibukan bukan alasan untuk menghilangkan hubungan. Bahkan ketika jarak memisahkan, perhatian dapat diberikan melalui komunikasi sederhana.
“Sudah makan, Bu?”
“Bagaimana kesehatan Ayah?”
Kalimat sederhana dapat memiliki makna yang besar.
Kedua, untuk Istri
Setelah menikah, seorang laki-laki memiliki pasangan hidup yang bukan hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan kehadiran emosional.
Waktu bersama istri bukan sekadar waktu untuk berada dalam satu rumah.
Yang lebih penting adalah kualitas kehadiran: mendengarkan, berbicara, memahami, memberikan dukungan, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Sebab rumah tangga tidak hanya dibangun dengan uang, tetapi juga dengan waktu, komunikasi, kepercayaan, dan perhatian.
Ketiga, untuk Anak
Anak-anak tidak hanya membutuhkan fasilitas.
Mereka membutuhkan orang tua yang hadir.
Seorang ayah yang menyediakan waktu untuk berbicara dengan anak, mendengarkan ceritanya, mendampingi proses belajarnya, atau sekadar bermain bersama, sebenarnya sedang membangun investasi jangka panjang.
Anak mungkin lupa berapa harga mainan yang pernah diberikan ayahnya.
Tetapi mereka akan mengingat:
“Ayah pernah hadir ketika saya membutuhkannya.”
Kehadiran seorang ayah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan kematangan anak.
Keempat, untuk Dirinya Sendiri
Memberikan waktu kepada keluarga bukan berarti seorang laki-laki harus kehilangan dirinya sendiri.
Justru ia perlu memiliki waktu untuk dirinya.
Ia perlu belajar, bekerja, beristirahat, menjaga hubungan spiritual, mengembangkan kompetensi, mengevaluasi diri, dan merencanakan masa depan.
Inilah yang disebut self-management—kemampuan mengelola diri agar berbagai peran dapat dijalankan secara seimbang.
Seorang laki-laki yang tidak mampu mengelola dirinya akan lebih sulit mengelola tanggung jawab yang lebih besar.
Kesiapan Kerja Bukan Hanya Soal Mendapatkan Pekerjaan
Perspektif ini juga penting diterapkan kepada mahasiswa.
Kesiapan kerja tidak boleh dipahami secara sempit sebagai kemampuan menjawab pertanyaan wawancara atau membuat curriculum vitae.
Mahasiswa perlu disiapkan menjadi individu yang mampu bekerja, mampu beradaptasi, mampu berkomunikasi, mampu mengambil keputusan, mampu menyelesaikan masalah, dan mampu bertanggung jawab.
Dalam konteks Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam, kesiapan tersebut menjadi semakin penting karena lulusan akan memasuki berbagai ruang pelayanan sosial dan keagamaan.
Lulusan BPI bukan hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan membangun hubungan dengan manusia, memahami masalah, berkomunikasi secara efektif, memberikan layanan, serta bekerja dengan berbagai karakter masyarakat.
Dengan demikian, filosofi “Ready to Learn, Ready to Work, Ready to Serve” menjadi relevan.
Mahasiswa belajar untuk membangun kompetensi.
Mahasiswa siap bekerja dengan profesional.
Dan akhirnya, mahasiswa siap melayani serta memberikan dampak bagi masyarakat.
Mengelola Waktu Berarti Mengelola Kehidupan
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah seseorang memiliki cukup waktu.
Semua orang memiliki waktu yang sama.
Persoalannya adalah bagaimana waktu tersebut dikelola dan untuk apa digunakan.
Seorang laki-laki yang matang memahami bahwa pekerjaan penting, tetapi keluarga juga penting.
Mencari nafkah penting, tetapi mendampingi anak juga penting.
Membangun karier penting, tetapi berbakti kepada orang tua juga penting.
Mengembangkan diri penting, tetapi menyediakan waktu untuk pasangan juga penting.
Karena itu, kematangan bukan berarti mampu melakukan semuanya sekaligus.
Kematangan berarti mampu menentukan prioritas, mengelola peran, dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
Dari Kesiapan Kerja Menuju Kesiapan Kehidupan
Gagasan tentang kesiapan kerja yang dikembangkan dalam disertasi Mirna Ari Mulyani dapat dibaca lebih luas sebagai bagian dari proses pembentukan manusia yang siap menjalani kehidupan.
Seseorang yang siap bekerja idealnya bukan hanya siap mendapatkan pekerjaan, tetapi juga siap menghadapi tuntutan kehidupan.
Ia mampu mengelola dirinya.
Ia mampu beradaptasi.
Ia mampu membangun hubungan.
Ia mampu bertanggung jawab.
Ia mampu menyelesaikan masalah.
Dan yang tidak kalah penting, ia mampu memahami bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan seluruh hubungan yang bermakna dalam hidupnya.
Karena itu, seorang laki-laki yang benar-benar dewasa bukanlah laki-laki yang mempunyai seluruh waktunya untuk dirinya sendiri.
Ia adalah laki-laki yang tahu kapan bekerja, kapan berhenti, kapan mendengar, kapan hadir, kapan berbakti, dan kapan memberikan waktu untuk orang-orang yang dicintainya.
Pada akhirnya, waktu adalah amanah.
Dan kualitas seorang laki-laki tidak hanya terlihat dari apa yang berhasil ia kumpulkan dalam hidup, tetapi juga dari kepada siapa ia memberikan waktu, perhatian, kasih sayang, dan kehadirannya.
Dari kesiapan kerja, menuju kesiapan menjalani kehidupan.
Dari kompetensi, menuju tanggung jawab.
Dari keberhasilan pribadi, menuju kebermanfaatan bagi keluarga dan masyarakat.
















