Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Satu lagi karya literasi lahir dari tokoh hukum dan politisi Sumatera Selatan, H. Chairul S Matdiah, SH, MHKes. Buku biografi keduanya yang berjudul “Di Balik Toga Hitam” resmi diperkenalkan kepada publik sebagai refleksi perjalanan panjangnya dalam dunia hukum dan pengabdian kepada masyarakat.
Berbeda dari buku pertamanya, “Jejak Penjual Kopi”, yang lebih menyoroti perjalanan hidup dan fondasi karier, buku terbaru ini menggali lebih dalam sisi idealisme, integritas, serta dinamika batin seorang advokat yang kemudian dipercaya mengemban amanah di dunia politik.
Penulis buku ini mengungkapkan bahwa proses penulisan bukan sekadar menyusun rangkaian peristiwa, melainkan sebuah upaya menyelami pemikiran dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Chairul S Matdiah. Sosok yang dikenal sebagai pejuang keadilan ini dinilai mampu menjadi contoh di tengah krisis keteladanan hukum saat ini.
“Toga hitam bukan sekadar atribut profesi, tetapi simbol janji suci untuk menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu,” tulis penulis dalam pengantarnya.
Buku ini juga mengangkat perjalanan Chairul dari seorang advokat yang terbiasa berjuang di ruang sidang hingga beralih peran sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif. Di dalamnya, pembaca diajak memahami bagaimana prinsip hukum tetap dijaga di tengah godaan dan tekanan politik.
Dalam kata sambutannya, Chairul S Matdiah menegaskan bahwa buku ini bukan untuk menonjolkan diri, melainkan sebagai bentuk refleksi perjalanan hidup. Ia ingin menunjukkan bahwa di balik wibawa seorang advokat, terdapat sisi manusiawi yang terus berjuang menjaga integritas.
“Saya ingin berbagi bagaimana nurani bekerja di bawah tekanan profesi, serta bagaimana menjaga keseimbangan antara tegaknya hukum dan kepentingan politik,” ujarnya.
Chairul juga secara terbuka menceritakan komitmennya dalam menolak praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip hukum, seperti gratifikasi yang dikenal dengan istilah “uang ketok palu”.
Ia menegaskan bahwa integritas adalah pilihan yang harus dijaga setiap saat, meski dihadapkan pada berbagai godaan.
Tidak hanya itu, pengalaman panjangnya sebagai advokat dalam menangani berbagai kasus besar turut membentuk karakter dan prinsip yang ia pegang hingga kini.
Ia menyebut, jika dahulu keberanian menjadi kunci di ruang sidang, maka di dunia politik, integritas adalah senjata utama.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini bukan hanya dokumentasi perjalanan seorang tokoh, tetapi juga sumber inspirasi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda dan praktisi hukum.
Menurutnya, sosok Chairul S Matdiah adalah figur yang konsisten memegang prinsip di tengah kompleksitas dunia hukum dan politik. Ia juga mengingat kembali momen peluncuran buku pertama Chairul pada 23 Agustus 2025 di Hotel Aryaduta Palembang, yang menjadi awal dari dokumentasi perjalanan hidup seorang tokoh lokal inspiratif.
“Buku ini mengajarkan bahwa integritas, kerja keras, dan keteguhan prinsip adalah kunci utama dalam meraih kepercayaan publik,” ujar Herman Deru.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya budaya literasi sebagai sarana menjaga gagasan agar tetap hidup dan memberi manfaat jangka panjang. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kata dia, mendukung penuh karya-karya yang mengangkat nilai kearifan lokal dan inspirasi dari tokoh daerah.
Buku “Di Balik Toga Hitam” diharapkan tidak hanya menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga menjadi kompas moral bagi para praktisi hukum, politisi, serta generasi muda yang ingin meniti jalan pengabdian dengan tetap menjunjung tinggi integritas.
Dengan hadirnya buku ini, Chairul S Matdiah kembali menegaskan bahwa menjaga marwah profesi dan kepercayaan publik bukanlah hal yang mustahil, melainkan pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.
(Yanti)
















