Palembang. Berita Suara Rakyat. Com
Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus memperkuat komitmen dalam mewujudkan pendidikan inklusif melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi dan Implementasi Pendidikan Inklusi pada jenjang SMA/SMK. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) di Hotel Swarna Dwipa, Selasa (5/5/2026).
Bimtek tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd, Sekretaris Disdik Misral, S.Sn., Kepala Bidang PKLK Dr. Utui Tatang Sutani, S.T., Kabid SMA Basuni, S.Pd., M.M., M.Pd., Kabid PTK Hj. Eka Diani Hartini, serta para pejabat dan peserta dari berbagai sekolah di Sumsel.
Dalam sambutannya, Kadisdik Sumsel menegaskan bahwa pendidikan inklusi merupakan amanat undang-undang yang menjamin hak setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk memperoleh pendidikan yang layak di sekolah umum.
“Anak-anak disabilitas memiliki hak yang sama untuk belajar di sekolah reguler, tidak harus selalu di SLB. Namun, tantangannya adalah masih kurangnya tenaga pendidik yang memahami pendidikan inklusi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kehadiran pendidikan inklusi membutuhkan komitmen dan keikhlasan para guru dalam memberikan pendampingan khusus kepada peserta didik.
Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus bukanlah individu dengan keterbatasan, melainkan anak-anak istimewa yang memiliki potensi luar biasa.
Mondyaboni juga berbagi pengalaman saat masih menjadi guru, di mana ia pernah mendampingi siswa berkebutuhan khusus yang justru menunjukkan prestasi gemilang di bidang teknologi informasi hingga mengikuti berbagai kompetisi.
“Kita harus mampu menggali potensi mereka. Banyak anak-anak ini yang mampu berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana yang juga Kepala Bidang PKLK Disdik Sumsel, Dr. Utui Tatang Sutani, menjelaskan bahwa kegiatan bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam mengelola kurikulum pendidikan inklusi agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.
“Bimtek ini diharapkan mampu memberikan pemahaman dan keterampilan kepada guru dalam mengimplementasikan pembelajaran inklusi di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 5 hingga 7 Mei 2026, dan diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari guru, wakil kepala sekolah bidang kurikulum serta kepala sekolah dari SMA/SMK negeri dan swasta di kabupaten/kota di Sumsel.
Adapun narasumber yang dihadirkan antara lain akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Endang Rochyadi (ahli Pendidikan Luar Biasa), praktisi pendidikan, Kasi Kurikulum dan Peserta Didik PKLK, Ketua MKKS SLB Sumsel, serta kepala sekolah dari berbagai satuan pendidikan, termasuk SMP Negeri Pembina Palembang dan SLB di Ogan Ilir serta YPAC Palembang.
Tatang menambahkan, implementasi pendidikan inklusi menjadi solusi atas keterbatasan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sejumlah daerah yang belum memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Anak-anak ini tidak boleh putus sekolah. Jika tidak ada SLB, maka sekolah reguler harus siap menampung mereka,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan sekolah seperti SMA Negeri 2 Palembang, telah direkomendasikan sebagai sekolah inklusi yang mampu menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk SMA dan SMK negeri reguler lainnya juga menerima anak berkebutuhan khusus ini.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini adalah masih minimnya tenaga pendidik dengan latar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Bahkan, guru SLB pun masih membutuhkan peningkatan kompetensi, misal dalam metode pengajaran khusus misalnya bahasa isyarat bagi siswa tunarungu.
Untuk itu, pihaknya berharap adanya peningkatan minat masyarakat terhadap program studi PLB. Selain itu, ia juga mendorong perguruan tinggi di Sumsel untuk membuka program studi tersebut agar calon guru tidak perlu menempuh pendidikan ke luar daerah seperti Padang atau Bandung.
“Dengan adanya prodi PLB di Sumsel, diharapkan kebutuhan guru pendidikan khusus dapat terpenuhi dan kualitas layanan pendidikan inklusi semakin meningkat,” pungkasnya.
(Yanti)
















